Tamu Blog Ini...

Sunday, 5 October 2014

Memaknai Perpisahan

Setiap insan yang ada di dunia ini pasti pernah mengalami pahitnya sebuah percintaan, kan? Saya yakin anda pernah dan saya pun pernah. Bagi saya, jumlah pahitnya cinta sama dengan jumlah manisnya cinta. Yaa, artinya semua cinta saya selama ini kandas. Tak ada yang bersisa. Meskipun begitu saya yakin di balik kandasnya hubungan percintaan saya masih ada makna yang berarti bagi diri saya sendiri.
Bagi saya tidak ada yang namanya pemutusan cinta. Toh, sudah seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa sebuah cinta itu tidak akan ada putus-putusnya melainkan cinta yang dulu bersemi telah bertransformasi menjadi bentuk cinta yang lainya. Begitupun dengan sebuah hubungan yang dulunya intens bertranformasi menjadi hubungan yang lainya. Bagaimanapun setelah memutuskan sebuah ikatan itu, setiap dari kita tentu masih bisa bersilahturahmi entah itu sehari setelahnya ataupun beberapa tahun setelahnya. Pemutusan yang mutlak adalah pemutusan sebuah harapan masa sekarang dan masa yang akan datang. Saya tak memungkiri hal itu, setiap pasangan pasti sangat mendambakan cinta mereka bisa bersemi abadi selama terus-menerus dan secara kontinyu tetapi terkadang dalam perjalanan cinta itu terdapat berbagai macam mata pisau yang siap memutuskan tali hubungan pasangan itu, benar kan? Nah, dari situlah kita mulai bersikap terhadap cinta dan komitmen yang pernah dibuat. Jika selamat dari mata pisau itu, bersyukurlah kalian dan bagi yang tidak bisa menghindari tajamnya mata pisau sebuah cinta.... bersabarlah. Hal yang paling menyenangkan dari sebuah perpisahan adalah pasti di luar sana akan ada seseorang yang lebih baik lagi daripada ini, itu pasti, dan saya sudah membuktikanya! Tuhan pun masih sayang kepadamu, Tuhan tahu seseorang yang terbaik bagimu dan dia sedang “menggodohnya” untukmu nanti. Entah itu adalah seseorang yang lain atau pun dia yang sudah berubah menjadi lebih baik daripada dahulu. Bersabarlah, kau masih memiliki kekasih sejati, yaitu Tuhanmu sendiri yang memang terkadang menyebalkan yang sering memberi kita cobaan hidup sekaligus dia pun menyanyangi.... bahkan sangat-sangat menyayangimu. Dialah satu-satunya kekasihmu yang tak akan pernah berpaling terkecuali kau yang berpaling muka darinya.
Nestapa ini memanglah sangat menyayat hati, terkadang penyesalan berujung duka “Mengapa saya harus bertemu dengan anda?!” ooppss... it’s wrong at all.... ingat jangan sesali sebuah pertemuan! Sekali lagi jangan sesali sebuah pertemuan! Yang patut di sesali adalah perngenalan! “Mengapa saya harus mengenal anda dan anda harus mengenal saya?!” that’s it! Saya bilang... sudah garis takdir kalian berdua untuk mengenal agar kalian tahu bagaimana menghargai cinta dan menanggapinya... agar kalian tahu seberapa standar kalian dalam mencari pasangan. Jika kekasih sekarang sudah pergi setidaknya saya tahu kekasih saya di masa yang akan datang lebih lebih daripada yang sekarang. Amin.
Pada akhirnya saya tahu melalui sebuah perenungan malam bahwa perpisahan ini janganlah dijadikan sebuah hambatan bagi diri saya sendiri dan bagi hati saya. Justru, saya masih bisa bersyukur saya akhirnya mempunyai waktu bagi diri saya sendiri. Tuhan tahu selama ini saya sudah tenggelam dalam manisnya cinta sesama manusia, fokus saya sudah sedikit teralihkan dengan hal macam itu. Maka dari itu melalui jalan yang nyatanya memang agak menyedihkan plus menyayat hati ini Tuhan ingin saya kembali pada jalan saya. Menikmati hidup dan kembali seperti dulu lagi. Sekarang saya bertekad that i must rise up my ability, don’t think about love with a man, that have their own time to proving.

Baiklah, lagi pula jodoh itu tidak akan tertukar percayalah mengorbankan emas untuk mendapatkan platina... jika garis takdirnya walaupun jauh pasti akan dimudahkan jalanya untuk segera bertemu kembali, dan jika bukan takdirnya sekeras apapun berjuang untuk bertemu pasti akan sulit sekali. Percayalah, Tuhan masih kekasihmu. Dan teman-teman adalah kekasih kita selamanya

No comments:

Post a Comment