Tamu Blog Ini...

Monday, 6 October 2014

Berhenti Pada Takdir Tuhan



Allhamdulillah.....

Aku berhenti disini.
Kali ini benar-benar berhenti. Jika kebahagian dan kesedihan adalah suatu hal yang saling melengkapi maka seharusnya tak ada beda diantara keduanya. Sebuah kebahagiaan dapatku terima dengan wajar maka seharusnya kesedihan pun dapatku terima secara wajar pula. Inilah hidup, selalu ada yang datang dan pergi. Datang untuk meninggalkan dan datang untuk abadi. Pergi utuk kembali dan pergi untuk tak kembali. Karena begitulah hidup bekerja membentuk sebuah siklus. Sekarang aku tak heran, mengapa orang-orang seenaknya datang dan pergi..... karena mereka sudah ditakdirkan untuk mengambil andil dalam sebuah siklus hidup. Mereka ada disini karena mereka sudah ada sejak awal. Welcome to my life....

Dan dalam sebuah al-kisah yang semakin kelu membebeni lidah. Aku nyatakan aku berhenti. Tugasku rampung. Layaknya sebuah komet yang melintas pada langit malam, setelah kita nikmati keindahan dan keanggunanya lalu apalagi yang perlu ditunggu? Selain kematian (?) aku percaya Tuhan masih sudi meraihku dengan tangan sucinya. Aku masih hambanya yang patut banyak belajar dari kesalahan. Karena hanya dialah yang mengajariku arti kehidupan sesungguhnya. Bukan seorang pandai guru atau mesin pencari. Aku bersyukur....

Tuhan tahu segala sesuatu yang baik. Meskipun terkadang di mata ini rasanya semua itu salah. Dialah penciptaku, Dia telah menentukan garis takdir yang terbaik. Seseorang yang terbaik pula. Andaikan aku paksakan terus untuk menginginkan seseorang yang tidak dikehendaki-Nya pada akhirnya hanya akan menyiksa batin dengan nafsu duniawi. Dia tak membuat hidupku menjadi lebih baik maupun bahagia, mengapa aku mempertahankanya? Jikalau dia tak cukup sanggup menghargaiku untuk apa aku menghargai dia? Biarkan dia menghilang... musnah.... mulai sekarang aku tak akan menghabiskan sisa waktu, fikiran, tenaga, dan kasih sayang untuk seorang ikhwan yang tak pantas dan tak ada artinya. Aku cukupkan. Aku hendak bersiap-siap membenahi puing-puing yang hancur dan mulai membersihkan sepetak lahan untuk kubangun istana yang megah berlandaskan hakikat hidup yang sesungguhnya ketimbang harus membuat sarang pada dahan yang rapuh.

Aku yakin, tak ada yang sia-sia dari segala perih hidup yang aku jalani. Selama aku masih bisa mengambil hikmah, ikhlas, tabah, dan terus berlajar maka aku akan semakin hebat. Perlu kutekankan sekarang, aku tak akan lagi sombong dengan mengangap hidupku yang paling menderita. Karena aku yakin aku tak seorang diri disini. Jangan menganggap hidupmu yang paling menderita, begitu kata papa. Aku yakin, dia barulah contoh awal dari sesuatu yang hebat nantinya. Dialah jawaban dari perih hidupku sedia kala. Aku akan terus mengkoreksi diri, menjadi pribadi yang terus membaik dari hari ke hari. Ketika kelak aku telah menjadi orang hebat dan kuat seiring dengan pengalaman hidup yang semakin bertambah aku akan lebih bijak, hatiku akan semakin terasah, jiwaku akan semakin kuat dan kearifan serta ketulusan akan terus mengiringi sisa perjalanan hidupku. Dan aku memilih untuk menyimpan kebijaksanaan itu dalam diam dan hanya bicara ketika diminta karena sehari-hari aku cukup menjadi seseorang yang ceria, beritikad baik, dan ikhlas. Kelak ketika Tuhan telah berkehendak, mudah-mudahan aku akan ditunjukan jalanya. Amin.

Mulai sekarang.... aku hanya akan bahagiakan apa yang mampu aku bahagiakan. Aku tak akan muluk-muluk dengan sesuatu yang terlalu rumit.  Cukuplah hal yang sederhana. Itu pun  selama aku mampu dan sanggup. Serta cukuplah aku beritikad baik serta berkelakuan baik karena itu hukumnya wajib. Hidupku terlalu singkat untukku habiskan sia-sia, masih banyak yang perlu aku lakukan dan kuperjuangkan. Jika saja bukan karena mereka, teman-teman, sahabat, keluarga, dan hahaha yang ngakunya anakku percayalah saat ini barangkali aku sedang terjatuh dan terus terjatuh. Aku bahagia meskipun para sahabat telah jauh entah dimana tetapi mereka tetap ada dan juga teman-teman di sekelilingku, Mudah-mudahan Tuhan membalas segala kebaikan budi kalian. Allhamdulillah..... 

Bandung, 1 Oktober 2014

No comments:

Post a Comment