Allhamdulillah.....
Aku berhenti disini.
Kali ini benar-benar berhenti. Jika kebahagian dan
kesedihan adalah suatu hal yang saling melengkapi maka seharusnya tak ada beda
diantara keduanya. Sebuah kebahagiaan dapatku terima dengan wajar maka
seharusnya kesedihan pun dapatku terima secara wajar pula. Inilah hidup, selalu
ada yang datang dan pergi. Datang untuk meninggalkan dan datang untuk abadi.
Pergi utuk kembali dan pergi untuk tak kembali. Karena begitulah hidup bekerja
membentuk sebuah siklus. Sekarang aku tak heran, mengapa orang-orang seenaknya
datang dan pergi..... karena mereka sudah ditakdirkan untuk mengambil andil
dalam sebuah siklus hidup. Mereka ada disini karena mereka sudah ada sejak
awal. Welcome to my life....
Dan dalam sebuah al-kisah yang semakin kelu membebeni
lidah. Aku nyatakan aku berhenti. Tugasku rampung. Layaknya sebuah komet yang
melintas pada langit malam, setelah kita nikmati keindahan dan keanggunanya
lalu apalagi yang perlu ditunggu? Selain kematian (?) aku percaya Tuhan masih
sudi meraihku dengan tangan sucinya. Aku masih hambanya yang patut banyak
belajar dari kesalahan. Karena hanya dialah yang mengajariku arti kehidupan
sesungguhnya. Bukan seorang pandai guru atau mesin pencari. Aku bersyukur....
Tuhan tahu segala sesuatu yang baik. Meskipun terkadang
di mata ini rasanya semua itu salah. Dialah penciptaku, Dia telah menentukan
garis takdir yang terbaik. Seseorang yang terbaik pula. Andaikan aku paksakan
terus untuk menginginkan seseorang yang tidak dikehendaki-Nya pada akhirnya
hanya akan menyiksa batin dengan nafsu duniawi. Dia tak membuat hidupku menjadi
lebih baik maupun bahagia, mengapa aku mempertahankanya? Jikalau dia tak cukup
sanggup menghargaiku untuk apa aku menghargai dia? Biarkan dia menghilang...
musnah.... mulai sekarang aku tak akan menghabiskan sisa waktu, fikiran,
tenaga, dan kasih sayang untuk seorang ikhwan yang tak pantas dan tak ada
artinya. Aku cukupkan. Aku hendak bersiap-siap membenahi puing-puing yang
hancur dan mulai membersihkan sepetak lahan untuk kubangun istana yang megah
berlandaskan hakikat hidup yang sesungguhnya ketimbang harus membuat sarang
pada dahan yang rapuh.
Aku yakin, tak ada yang sia-sia dari segala perih hidup
yang aku jalani. Selama aku masih bisa mengambil hikmah, ikhlas, tabah, dan
terus berlajar maka aku akan semakin hebat. Perlu kutekankan sekarang, aku tak
akan lagi sombong dengan mengangap hidupku yang paling menderita. Karena aku
yakin aku tak seorang diri disini. Jangan
menganggap hidupmu yang paling menderita, begitu kata papa. Aku yakin, dia
barulah contoh awal dari sesuatu yang hebat nantinya. Dialah jawaban dari perih
hidupku sedia kala. Aku akan terus mengkoreksi diri, menjadi pribadi yang terus
membaik dari hari ke hari. Ketika kelak aku telah menjadi orang hebat dan kuat
seiring dengan pengalaman hidup yang semakin bertambah aku akan lebih bijak,
hatiku akan semakin terasah, jiwaku akan semakin kuat dan kearifan serta
ketulusan akan terus mengiringi sisa perjalanan hidupku. Dan aku memilih untuk
menyimpan kebijaksanaan itu dalam diam dan hanya bicara ketika diminta karena
sehari-hari aku cukup menjadi seseorang yang ceria, beritikad baik, dan ikhlas.
Kelak ketika Tuhan telah berkehendak, mudah-mudahan aku akan ditunjukan
jalanya. Amin.
Mulai sekarang.... aku hanya akan bahagiakan apa yang
mampu aku bahagiakan. Aku tak akan muluk-muluk dengan sesuatu yang terlalu
rumit. Cukuplah hal yang sederhana. Itu
pun selama aku mampu dan sanggup. Serta
cukuplah aku beritikad baik serta berkelakuan baik karena itu hukumnya wajib. Hidupku
terlalu singkat untukku habiskan sia-sia, masih banyak yang perlu aku lakukan
dan kuperjuangkan. Jika saja bukan karena mereka, teman-teman, sahabat,
keluarga, dan hahaha yang ngakunya anakku percayalah saat ini barangkali aku
sedang terjatuh dan terus terjatuh. Aku bahagia meskipun para sahabat telah
jauh entah dimana tetapi mereka tetap ada dan juga teman-teman di sekelilingku, Mudah-mudahan Tuhan membalas segala
kebaikan budi kalian. Allhamdulillah.....
Bandung, 1 Oktober 2014
No comments:
Post a Comment