Masih ada yang mesti kufikirkan kembali. Mengenai semua
kisah yang kini hadir dihadapanku. Apakah aku salah dalam bertindak?
Kisah ini dimulai dari saat itu. Melalui gentingnya
pertarungan yang lesu. Dia hadir bak komet yang menerangi langit malam. Mempesona,
membuatku terpaku seperti saat dia berlalu dihadapanku dibalik bingkainya yang
samar. Aku merasakan sesuatu yang tak biasa. Yang belum pernah tercipta
sebelumnya, sebuah kegetiran yang menyayat-nyayat hati. Aku menyimak tutur
katanya yang penuh kebijaksanaan, penuh cita-cita tentang masa depan, semangat
yang berapi-api. Mengenai sebuah akar yang mesti di bangun usainya. Aku
berbinar tak kuasa melihatnya, aku hanya termangu pada ubin-ubin keramik.
Melihat sosoknya yang berbeda, membuatku tak ingin lupa ketika aku melihatnya
di pinggir lapangan itu. Saat itu pula aku tahu, barangkali kisah ini akan sama
seperti dahulu. Kendati gelora menggebu-gebu di dada, aku abaikan. Aku takut. Aku
tersenyum, usainya.
Aku iri, aku melihatnya. Aku jatuh cinta, tetapi tak
sanggup kugapai dirinya dengan tanganku, bahkan sekalipun aku enggan meraih
bayanganya karena niscaya aku akan terbakar oleh luka. Aku menilik, siapa aku?
Aku ini apa? Bukan siapa-siapa....... Lagipula aku tak sanggup mencintainya,
aku terlalu rapuh. Aku takut mencintai kembali. Aku takut aku harus bertaruh
dengan cinta. Aku takut menuai kembali luka. Aku berusaha mengacuhkan itu.
Barangkali ini hanya sementara, aku menegarkan diri.
Tidak! Ini lebih sekedar daripada itu. Dia adalah dunianya sendiri dengan
segala kebobrokan yang mesti diperbaiki dan aku adalah seorang yang berdiri di
pojokan melihat dengan malu-malu ke arahnya. Aku tak ingin dia tahu, bisa
berabe kalau tahu. Aku mecoba wajar, mengacuhkan semua perasaan itu. Tak bisa
kulepas raut wajahnya ketika itu, saat aku berada di pojokan kursi kendaraan,
dia melihatku dengan tatapan aneh dan senyumnya yang lebih janggal daripada
biasanya. Mungkinkah?
Tidak... tidak! Aku tak boleh mencintainya! Aku bukanlah
benda yang berarti di matanya. Malam-malamku adalah penyiksaan yang terus
menerus. Aku bertarung melawan perasaan ini. Menyiksa perasaan-perasaan itu
dengan sebuah kalimat, aku terus terjatuh. Bagaimana mungkin aku jatuh cinta?
Aku mencaci maki anugrah ini hingga langit malam murka
dan retak mendengar sumpah serapah dari mulutku. Dan aku pun harus menerima
kenyataan bahwa aku telah sampai pada lembaran baru. Aku jatuh cinta. Tetapi
kubiarkan semua ini tersembunyi, jangan biarkan dia tahu! Jangan biarkan! Don’t
let he knows.... don’t let he knows! Please.... aku tak ingin menjadi alasan.
Requim berdenting di telinga. Aku mendengar kabar itu. Bagaimana
mungkin? Aku tak percaya..... aku berlari menjauhi kelamnya ia. Seharusnya aku
bergembira tetapi aku seperti seorang penjambret yang sudah berbuat jahat. Aku
menangis meratapi hal yang terjadi, akankah semua ini berujung bahagia?
Sial....
Aku pun benci ini. Perasaan ini bisa kusembunyikan tapi
tak kuasa aku bungkam. Bagaimana langkah ini kumulai sedang dia terus
membanjiri hari-hariku yang penuh kekosongan? Dia menawarkan genggaman tangan, seharusnya
kuabaikan. Tetapi dia adalah sebuah komet yang kunanti-nantikan, yang katanya
hanya ada dalam angan-anganku. Aku pun ingin menikmati komet itu, membawa komet
itu pulang ke rumah dan biar kurawat dia dengan kasih agar abadi. Waktu yang
terjadi sangatlah abstrak sampai aku pada penghujung penyiksaan perasaaan bahwa
aku telah menerima anugrah cintanya.
Aku menerimanya dengan tangan terbuka, menyambutnya
dengan penuh kebahagiaan dan suka cita. Tetapi bagaimana bisa? Sedang dia
kutahu adalah seorang hatinya yang sedang rusak. Apa mungkin bisa aku membantu
membangunya sedang aku tak tahu pembeda antara seorang teman dan seorang
kekasih. Apa beda dari kedua hal itu? Bagaimana aku bertindak.... bagaimana aku
berbuat.... bagaimana aku berucap aku masih kalut.
Cinta itu adalah yang bahagia. Hari-hariku merupakan
kebahagiaan meskipun aku harus menyiksa diri sendiri, segalanya adalah ungkapan
perhatian dan cinta. Riuh kata-katanya, segala tindakanya adalah ketulusan. Aku
terlalu sombong karena kemenangan palsu..... Aku harus terjatuh. Aku harus
kembali mundur untuk kebebasanya. Aku harus merelakan dia pergi, pergi entah
kemana. Aku yakin dia mendambakan air hujan. Hatinya telah kering oleh cinta,
dan aku pun tak banyak membantunya. Aku biarkan dia pergi bersama semua
rahasianya yang tak ingin kuketahui. Hatiku tersayat-sayat
Di tempat itu aku melepaskanya pergi. Di waktu yang
selalu menjadi kesukaanku karena lembayung saat itu selalu diam tetapi menghanyutkan.
Di tempat itu yang selalu menjadi kenanganku bersamanya. Aku sangat rapuh, naif
dan melakukan kesalahan lagi untuk kedua kalinya. Seharusnya tak begini, aku
telah lalai dengan perasaanku sendiri. Aku biarkan dia pergi, membiarkan dia
menuai kebahagiaanya yang hakiki.
Bandung, 27 September 2014
Bandung, 27 September 2014
No comments:
Post a Comment