Tamu Blog Ini...

Monday, 6 October 2014

Salakkan Perasaan



Masih ada yang mesti kufikirkan kembali. Mengenai semua kisah yang kini hadir dihadapanku. Apakah aku salah dalam bertindak?

Kisah ini dimulai dari saat itu. Melalui gentingnya pertarungan yang lesu. Dia hadir bak komet yang menerangi langit malam. Mempesona, membuatku terpaku seperti saat dia berlalu dihadapanku dibalik bingkainya yang samar. Aku merasakan sesuatu yang tak biasa. Yang belum pernah tercipta sebelumnya, sebuah kegetiran yang menyayat-nyayat hati. Aku menyimak tutur katanya yang penuh kebijaksanaan, penuh cita-cita tentang masa depan, semangat yang berapi-api. Mengenai sebuah akar yang mesti di bangun usainya. Aku berbinar tak kuasa melihatnya, aku hanya termangu pada ubin-ubin keramik. Melihat sosoknya yang berbeda, membuatku tak ingin lupa ketika aku melihatnya di pinggir lapangan itu. Saat itu pula aku tahu, barangkali kisah ini akan sama seperti dahulu. Kendati gelora menggebu-gebu di dada, aku abaikan. Aku takut. Aku tersenyum, usainya.

Aku iri, aku melihatnya. Aku jatuh cinta, tetapi tak sanggup kugapai dirinya dengan tanganku, bahkan sekalipun aku enggan meraih bayanganya karena niscaya aku akan terbakar oleh luka. Aku menilik, siapa aku? Aku ini apa? Bukan siapa-siapa....... Lagipula aku tak sanggup mencintainya, aku terlalu rapuh. Aku takut mencintai kembali. Aku takut aku harus bertaruh dengan cinta. Aku takut menuai kembali luka. Aku berusaha mengacuhkan itu.

Barangkali ini hanya sementara, aku menegarkan diri. Tidak! Ini lebih sekedar daripada itu. Dia adalah dunianya sendiri dengan segala kebobrokan yang mesti diperbaiki dan aku adalah seorang yang berdiri di pojokan melihat dengan malu-malu ke arahnya. Aku tak ingin dia tahu, bisa berabe kalau tahu. Aku mecoba wajar, mengacuhkan semua perasaan itu. Tak bisa kulepas raut wajahnya ketika itu, saat aku berada di pojokan kursi kendaraan, dia melihatku dengan tatapan aneh dan senyumnya yang lebih janggal daripada biasanya. Mungkinkah?

Tidak... tidak! Aku tak boleh mencintainya! Aku bukanlah benda yang berarti di matanya. Malam-malamku adalah penyiksaan yang terus menerus. Aku bertarung melawan perasaan ini. Menyiksa perasaan-perasaan itu dengan sebuah kalimat, aku terus terjatuh. Bagaimana mungkin aku jatuh cinta?

Aku mencaci maki anugrah ini hingga langit malam murka dan retak mendengar sumpah serapah dari mulutku. Dan aku pun harus menerima kenyataan bahwa aku telah sampai pada lembaran baru. Aku jatuh cinta. Tetapi kubiarkan semua ini tersembunyi, jangan biarkan dia tahu! Jangan biarkan! Don’t let he knows.... don’t let he knows! Please.... aku tak ingin menjadi alasan.

Requim berdenting di telinga. Aku mendengar kabar itu. Bagaimana mungkin? Aku tak percaya..... aku berlari menjauhi kelamnya ia. Seharusnya aku bergembira tetapi aku seperti seorang penjambret yang sudah berbuat jahat. Aku menangis meratapi hal yang terjadi, akankah semua ini berujung bahagia?

Sial....

Aku pun benci ini. Perasaan ini bisa kusembunyikan tapi tak kuasa aku bungkam. Bagaimana langkah ini kumulai sedang dia terus membanjiri hari-hariku yang penuh kekosongan? Dia menawarkan genggaman tangan, seharusnya kuabaikan. Tetapi dia adalah sebuah komet yang kunanti-nantikan, yang katanya hanya ada dalam angan-anganku. Aku pun ingin menikmati komet itu, membawa komet itu pulang ke rumah dan biar kurawat dia dengan kasih agar abadi. Waktu yang terjadi sangatlah abstrak sampai aku pada penghujung penyiksaan perasaaan bahwa aku telah menerima anugrah cintanya.

Aku menerimanya dengan tangan terbuka, menyambutnya dengan penuh kebahagiaan dan suka cita. Tetapi bagaimana bisa? Sedang dia kutahu adalah seorang hatinya yang sedang rusak. Apa mungkin bisa aku membantu membangunya sedang aku tak tahu pembeda antara seorang teman dan seorang kekasih. Apa beda dari kedua hal itu? Bagaimana aku bertindak.... bagaimana aku berbuat.... bagaimana aku berucap aku masih kalut. 

Cinta itu adalah yang bahagia. Hari-hariku merupakan kebahagiaan meskipun aku harus menyiksa diri sendiri, segalanya adalah ungkapan perhatian dan cinta. Riuh kata-katanya, segala tindakanya adalah ketulusan. Aku terlalu sombong karena kemenangan palsu..... Aku harus terjatuh. Aku harus kembali mundur untuk kebebasanya. Aku harus merelakan dia pergi, pergi entah kemana. Aku yakin dia mendambakan air hujan. Hatinya telah kering oleh cinta, dan aku pun tak banyak membantunya. Aku biarkan dia pergi bersama semua rahasianya yang tak ingin kuketahui. Hatiku tersayat-sayat

Di tempat itu aku melepaskanya pergi. Di waktu yang selalu menjadi kesukaanku karena lembayung saat itu selalu diam tetapi menghanyutkan. Di tempat itu yang selalu menjadi kenanganku bersamanya. Aku sangat rapuh, naif dan melakukan kesalahan lagi untuk kedua kalinya. Seharusnya tak begini, aku telah lalai dengan perasaanku sendiri. Aku biarkan dia pergi, membiarkan dia menuai kebahagiaanya yang hakiki.

Bandung,  27 September 2014

No comments:

Post a Comment