Mana
yang harus aku pilih kebenaranya ketika semuanya tidak benar?
Dapatkah
kau menjelaskan ini semua?
Aku
heran dengan takdir Tuhan yang selalu membuatku terus berfikir dan berfikir,
terus memohon dan memohon, terus membuatku berharap dan berharap....
Aku
tak pandai jatuh cinta. Kukira cinta itu tak perlu dicari dan terus digali dari
seorang hati yang sedang menaruh harapan darimu. Aku tak akan berbuat dzolim
dengan mengambil kesempatan dan keuntungan dari seseorang menaruh cintanya
padaku. Aku tak akan menyiksa mereka yang telah jatuh hati, karena aku tahu
mereka pun tersiksa dengan perasaanya sendiri. Maka aku akan membiarkan dia
melihat kedepan kepada sesuatu yang lebih indah daripadaku. Aku yakin, diluaran
sana masih banyak bertebaran bunga-bunga yang lebih indah daripada yang sedang
mereka lihat.
Seharusnya
aku tak membiarkan perasaan ini terlewati begitu saja. Orang bilang cinta itu
adalah hal yang paling indah. Tetapi aku sekali lagi harus melongo dengan
takdir Tuhan yang menggemaskan. Dimataku cinta adalah penyiksaan. Dan ketika
kau jatuh cinta maka kau harus menyetujui akan adanya penyiksaan. Jikalau terus
diredam cinta itu akan menjadi sebuah luapan-luapan bodoh ketika bertingkah.
Pasti memalukan sekali, bukanya menarik perhatianya malah membuat dia menjauh
darimu....
Aku
pernah mengacuhkan perasaan ini. membiarkan aku menikmati indahnya cinta
seorang diri. Cinta itu terus mengetuk-mengetuk pintu hati, aku biarkan saja. Aku
biarkan dia berlalu begitu saja. Lewat tanpa permisi di hadapan kedua mataku,
aku menatap nanar melihat penyiksaan pada akhirnya. Lalu kusimpulkan, suatu
saat nanti ketika aku melihat cinta itu kulihat kembali aku tak akan
membiarkanya berlalu begitu saja. Aku tak ingin tersiksa kembali.
Hampir
3 musim berlalu aku melihat lagi indahnya cinta. Kali ini aku malah ingin
menjauhinya ketimbang aku menikmatinya dalam sepi. Aku benar-benar ingin
menjauh tapi tak bisa. Tarikan itu terlalu kuat. Aku berbalik melihat masa
lalu, jangan biarkan dia lewat! Aku
berguru pada kalimat itu. Akhirnya aku mengambil kesempatan ini juga. Benar,
cinta akan indah jika bersambut dan jika kedua-duanya merasakan hal yang
serupa. Dibalik itu cinta yang diterima pada akhirnya berubah menjadi
penyiksaan juga. Tak ada bedanya.
Jadi,
apa yang harus kupilih kebenaranya, ketika semuanya tidak benar? Kedua-duanya
adalah penyiksaan bukan?
Ada
yang ingin menjawab?
Bandung, 27 September 2014
Bandung, 27 September 2014
No comments:
Post a Comment