Tamu Blog Ini...

Sunday, 5 October 2014

Hidup dan Mimpi

Dalam kesenggangan acara aku bertemu dengan salah satu guruku di salah satu bangku “stasiun kereta” di sekolahku. Yah, guru ini nyatanya memang cukup nyentrik di sekolah itu. Terkadang aku tidak mengerti apa yang di jelaskanya selama 4 jam pelajaran. Lebih sering dia menjelaskannya dengan ngaler-ngidul, kemana saja dia berbicara yang penting dapat mengisi 4 jam pelajaran. Tetapi dalam obrolan yang ngaler-ngidul itu terselip beberapa makna tersembunyi meskipun harus aku analisa menggunakan nalar yang super tinggi. Sering kali aku hanya bisa terbengong mendengar setiap cerita guruku itu, aku jelas tidak bisa tertidur ketika pelajaran berlangsung meskipun kuakui aku memang mengantuk saat mengikuti pelajaranya. Walaupun memang penjelasanya ngaler-ngidul tetapi jangan salah loh, dia mempunyai kekuasaan yang superior di sekolah! Huh, sudahlah aku hanya bisa mengikuti apa maunya saja. Pasang kuping dan nalar! Dengarkan dan cermati!
Ketika bertemu dengan guru sudah pasti aku harus menghormat kepadanya. Bukan menghormat bendera, ya! Aku menyalaminya seperti salamku kepada orang tua. Saat itu aku bingung apa lagi yang harus kulakukan sedangkan tugasku yang pertama sudah selesai, kebetulan saja saat itu aku bertemu dengan guru nyentrik itu dan ada beberapa temanku yang duduk di kanan kiri kursi panjang itu. Tanpa pikir panjang aku ikut gabung bersama mereka, siapa tahu saja aku dapat melepaskan penat di siang hari kala itu.
Sempat aku bercanda ria bersama teman-teman dan guru itu meskipun pembicaraan yang memang tidak penting juga. Lalu mulailah satu per satu teman-temanku meninggalkan bangku itu kembali kepada tugasnya masing-masing, tinggalah aku berdua bersama guruku. Daripada tidak ada pembicaraan aku menanyainya yang sebenarnya aku sudah paham, berhubung saat-saat itu adalah suasana mencekam saat akan menjelang ujian kenaikan kelas.
“Pak, untuk tahun sekarang banyak nggak yang nggak naik kelas?” kira-kira semacam itulah pertanyaanku. Si Bapak jelas tersenyum lantas menjawabnya dengan riangan, “Banyak! Banyak sekali!” ungkapnya. Lalu dia pun melanjutkan dengan panjang lebar dan aku bisa menangkap beberapa point dari wejanganya itu.
KALAU HIDUP ITU HARUS PUNYA MIMPI! Jelas! Kalau kita hidup harus punya mimpi! Si bapak saat itu meledek aku begini, jangan kayak kamu tuh nggak punya mimpi! Ledek si bapak. Hey, aku punya mimpi kok tetapi tak akan kusebarkan biarkan saya dan Tuhan yang menjalaninya. Tetapi memang sih, setiap hal itu perlu pembuktian dan aku belum membuktikan aku mempunyai mimpi yang besar untuk nantinya. Bersabarlah.
Aku menyadari tahun pelajaran ini akan banyak sekali yang tidak akan naik kelas. Aku tidak yakin hanya karena sekolah yang membentuk mereka menjadi tidak naik kelas tetapi lebih kepada dirinya lah yang membuat dirinya terjerumus. Aku menyadari dengan sepenuhnya tempatku mengenyam pendidikan itu agaknya cukup keras dan aneh untuk para remaja, terlebih lagi ketika harus berhadapan dengan guru-guru yang lebih “nyentrik” lagi. Tidak ada sesuatu pun yang sulit ketika niat sudah teguh. Yah, untungnya aku berangkat dari sebuah niat yang teguh jadi apapun itu aku akan anggap sebagai konsekuensiku disana. Dan.... kita kembali lagi kepada Si Mimpi. Anak-anak itu menurut pandangan si bapak yang dibenarkan oleh kaca mata saya mimpinya sudah menghilang entah kemana. Selama kita punya mimpi yang jelas tujuannya dan jelas arahnya pasti kita akan terus memperjuangkan mimpi itu hingga terwujud. Lantas apakah yang terjadi dengan anak-anak itu?
Kebanyakan mereka tidak mempunyai mimpi! Eh, maaf.... bukanya mereka tidak mempunyai mimpi hanya saja belum ada mimpi yang tujuan dan arahnya jelas bagi mereka sehingga setiap harinya mereka harus berkecimpung pada hal yang sama dan hal yang tidak mereka sukai. Mimpi mereka tidak kandas hanya belum menemukan mimpi yang jelas. 
Si bapak kembali berpesan kepadaku, kamu hidup harus mempunyai mimpi... kalau kamu hidup tidak mempunyai mimpi tidak usah hidup saja sekalian. Yah, mimpi itu memang seperti seliter pertamax dalam hidup kita yang terus menjalan roda kehidupan kita. Kalau pun roda kita berputar sedangkan tidak ada seliter pertamax palingan roda kita hanya berputar di tempat! Agar roda kehidupan terus berjalan tetaplah bermimpi, apapun itu! Lalu pada saat-saat genting saat itu datanglah seorang alumni yang telah sukses kuliah dengan mendapatkan beasiswa. Guruku itu masih ingat orangnya, lalu dia mulai memberikan contoh yang konkret mengapa kita harus terus bermimpi. Si bapak langsung bercerita bagaiman sepak terjangnya alumni itu selama di sekolah, dulu alumni itu memang terkesan biasa-biasa saja tetapi menurut tutur si bapak alumni itu mempunyai mimpi yang ingin diwujudkan. Selepas sekolah alumni itu terus mengejar mimpinya hingga dia mendapat beasiswa yang ajiip sekali... dan untuk saat ini alumni itu sedikit-sedikit bisa mewujudkan impianya itu.
Lalu si bapak menunjukan foto-foto alumni yang telah sukses karena bermimpi lagi. Iri aku melihatnya, ingin aku seperti itu. Bisa mewujudkan impian-impian terdalamku. Semoga aku pun bisa mengikuti jejak mereka yang sudah jauh sukses mendahuluiku. Amin. Jadi, kalau hidup harus bermimpi, jangan sekali-kali meremehkan mimpi. Bermimpi, berdo’a, dan berusaha mudah-mudahan terwujud. Sekali lagi, HIDUP ITU HARUS MEMPUNYAI MIMPI!

No comments:

Post a Comment