Dalam kesenggangan acara aku bertemu dengan salah satu
guruku di salah satu bangku “stasiun kereta” di sekolahku. Yah, guru ini
nyatanya memang cukup nyentrik di sekolah itu. Terkadang aku tidak mengerti apa
yang di jelaskanya selama 4 jam pelajaran. Lebih sering dia menjelaskannya
dengan ngaler-ngidul, kemana saja dia berbicara yang penting dapat mengisi 4
jam pelajaran. Tetapi dalam obrolan yang ngaler-ngidul itu terselip beberapa
makna tersembunyi meskipun harus aku analisa menggunakan nalar yang super
tinggi. Sering kali aku hanya bisa terbengong mendengar setiap cerita guruku
itu, aku jelas tidak bisa tertidur ketika pelajaran berlangsung meskipun kuakui
aku memang mengantuk saat mengikuti pelajaranya. Walaupun memang penjelasanya ngaler-ngidul
tetapi jangan salah loh, dia mempunyai kekuasaan yang superior di sekolah! Huh,
sudahlah aku hanya bisa mengikuti apa maunya saja. Pasang kuping dan nalar!
Dengarkan dan cermati!
Ketika bertemu dengan guru sudah pasti aku harus
menghormat kepadanya. Bukan menghormat bendera, ya! Aku menyalaminya seperti
salamku kepada orang tua. Saat itu aku bingung apa lagi yang harus kulakukan
sedangkan tugasku yang pertama sudah selesai, kebetulan saja saat itu aku
bertemu dengan guru nyentrik itu dan ada beberapa temanku yang duduk di kanan
kiri kursi panjang itu. Tanpa pikir panjang aku ikut gabung bersama mereka,
siapa tahu saja aku dapat melepaskan penat di siang hari kala itu.
Sempat aku bercanda ria bersama teman-teman dan guru itu
meskipun pembicaraan yang memang tidak penting juga. Lalu mulailah satu per
satu teman-temanku meninggalkan bangku itu kembali kepada tugasnya
masing-masing, tinggalah aku berdua bersama guruku. Daripada tidak ada
pembicaraan aku menanyainya yang sebenarnya aku sudah paham, berhubung
saat-saat itu adalah suasana mencekam saat akan menjelang ujian kenaikan kelas.
“Pak, untuk tahun sekarang banyak nggak yang nggak naik
kelas?” kira-kira semacam itulah pertanyaanku. Si Bapak jelas tersenyum lantas
menjawabnya dengan riangan, “Banyak! Banyak sekali!” ungkapnya. Lalu dia pun
melanjutkan dengan panjang lebar dan aku bisa menangkap beberapa point dari
wejanganya itu.
KALAU HIDUP ITU HARUS PUNYA MIMPI! Jelas! Kalau kita
hidup harus punya mimpi! Si bapak saat itu meledek aku begini, jangan kayak
kamu tuh nggak punya mimpi! Ledek si bapak. Hey, aku punya mimpi kok tetapi tak
akan kusebarkan biarkan saya dan Tuhan yang menjalaninya. Tetapi memang sih,
setiap hal itu perlu pembuktian dan aku belum membuktikan aku mempunyai mimpi
yang besar untuk nantinya. Bersabarlah.
Aku menyadari tahun pelajaran ini akan banyak sekali yang
tidak akan naik kelas. Aku tidak yakin hanya karena sekolah yang membentuk
mereka menjadi tidak naik kelas tetapi lebih kepada dirinya lah yang membuat
dirinya terjerumus. Aku menyadari dengan sepenuhnya tempatku mengenyam
pendidikan itu agaknya cukup keras dan aneh untuk para remaja, terlebih lagi
ketika harus berhadapan dengan guru-guru yang lebih “nyentrik” lagi. Tidak ada
sesuatu pun yang sulit ketika niat sudah teguh. Yah, untungnya aku berangkat
dari sebuah niat yang teguh jadi apapun itu aku akan anggap sebagai
konsekuensiku disana. Dan.... kita kembali lagi kepada Si Mimpi. Anak-anak itu
menurut pandangan si bapak yang dibenarkan oleh kaca mata saya mimpinya sudah menghilang
entah kemana. Selama kita punya mimpi yang jelas tujuannya dan jelas arahnya
pasti kita akan terus memperjuangkan mimpi itu hingga terwujud. Lantas apakah
yang terjadi dengan anak-anak itu?
Kebanyakan mereka tidak mempunyai mimpi! Eh, maaf.... bukanya
mereka tidak mempunyai mimpi hanya saja belum ada mimpi yang tujuan dan arahnya
jelas bagi mereka sehingga setiap harinya mereka harus berkecimpung pada hal
yang sama dan hal yang tidak mereka sukai. Mimpi mereka tidak kandas hanya
belum menemukan mimpi yang jelas.
Si bapak kembali berpesan kepadaku, kamu hidup harus
mempunyai mimpi... kalau kamu hidup tidak mempunyai mimpi tidak usah hidup saja
sekalian. Yah, mimpi itu memang seperti seliter pertamax dalam hidup kita yang
terus menjalan roda kehidupan kita. Kalau pun roda kita berputar sedangkan
tidak ada seliter pertamax palingan roda kita hanya berputar di tempat! Agar
roda kehidupan terus berjalan tetaplah bermimpi, apapun itu! Lalu pada
saat-saat genting saat itu datanglah seorang alumni yang telah sukses kuliah
dengan mendapatkan beasiswa. Guruku itu masih ingat orangnya, lalu dia mulai
memberikan contoh yang konkret mengapa kita harus terus bermimpi. Si bapak
langsung bercerita bagaiman sepak terjangnya alumni itu selama di sekolah, dulu
alumni itu memang terkesan biasa-biasa saja tetapi menurut tutur si bapak
alumni itu mempunyai mimpi yang ingin diwujudkan. Selepas sekolah alumni itu
terus mengejar mimpinya hingga dia mendapat beasiswa yang ajiip sekali... dan
untuk saat ini alumni itu sedikit-sedikit bisa mewujudkan impianya itu.
Lalu si bapak menunjukan foto-foto alumni yang telah
sukses karena bermimpi lagi. Iri aku melihatnya, ingin aku seperti itu. Bisa
mewujudkan impian-impian terdalamku. Semoga aku pun bisa mengikuti jejak mereka
yang sudah jauh sukses mendahuluiku. Amin. Jadi, kalau hidup harus bermimpi,
jangan sekali-kali meremehkan mimpi. Bermimpi, berdo’a, dan berusaha
mudah-mudahan terwujud. Sekali lagi, HIDUP ITU HARUS MEMPUNYAI MIMPI!
No comments:
Post a Comment