“Kepanduan”, atau barangkali di Indonesia lebih
dikenal dengan nama “kepramukaan”, tampaknya mulai terlupakan dari benak para
remaja-remaja masa kini dan bahkan bisa dibilang hampir tidak diminati lagi
oleh mereka. Sebuah realita pahit yang memang harus kita terima di era
millennium ini. Bagaimana mungkin saya tidak menyatakan fakta tersebut? Dahulu,
Organisasi Gerakan Pramuka Indonesia dianggap sebagai organisasi yang
berwibawa, bergengsi, serta hebat. Para pramukanya pun juga sangat
dielu-elukan, disegani, dan bahkan menjadi sangat istimewa di mata masyarakat
pada era kejayaannya itu. Namun seiring dengan terjadinya dinamika pada diri
bangsa Indonesia, di era millennium ini pamor pramuka seakan anjlok di mata
masyarakat. Kini kondisi Gerakan Pramuka Indonesia tidak seperti yang dahulu
lagi. Tidak lagi di elu-elukan, dianggap tidak terlalu istimewa, serta sering
pula disepelekan oleh masyarakat, dan berbagai macam hal lainnya lagi. Bahkan
di beberapa pangkalan, gugus depan pramuka itu “mati”, yang berarti tidak ada
tanda-tanda kehidupan organisasi kepramukaan di sana. Ini merupakan salah satu
contoh bagaimana sikap pesimistik seorang kepala sekolah terhadap organisasi
kepramukaan di sekolahnya sendiri. Jika dibiarkan seperti ini terus, bukan
mustahil bila suatu saat nanti Gerakan Pramuka Indonesia akan benar-benar
kandas atau punah.
Padahal, jika ditilik dari segi manfaatnya,
kepramukaan memiliki segudang manfaat yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Kepramukaan sesungguhnya membangun karakter manusia yang mandiri,
berani, bertanggungjawab, berwibawa, teladan, serta serba bisa. Tetapi jika
kondisi Gerakan Pramuka Indonesia saja terseok-seok dan bahkan tidak diminati
lagi oleh masyarakat utamanya para remaja seperti saat ini, maka bagaimana bisa
para remaja era millennium ini menjadi manusia yang berkarakter atau berjiwa
pramuka? Maka jangan heran apabila di era millennium ini banyak para remaja
yang melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap norma yang berlaku di masyarakat
Indonesia, baik itu norma hukum, norma kesopanan, norma agama, maupun norma
kesusilaan. Sungguh disayangkan..
Kesadaran dari dalam pribadi masing-masing mengenai
pentingnya manfaat kepramukaan pun perlu ditumbuhkan sejak dini. Namun ini
tidak berarti di setiap sekolah terutama Sekolah Dasar (SD), kegiatan
kepramukaan jadi diwajibkan. Sebab jika diwajibkan, maka jumlah anggota
organisasi kepramukaannya pun otomatis akan menjadi membludak, bila kondisinya
seperti demikian, maka dapat dipastikan bahwa proses pelatihan kepramukaannya
sendiri tidak akan berjalan dengan maksimal dan efektif-efisien, akibatnya
sebagian dari para anggota banyak yang terlantar dan malah hanya menggunakan
seragam pramuka saja tanpa mengetahui makna dari kepramukaan itu sendiri. Ketika
mereka melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama, mereka lebih cenderung berpikir
bahwa pramuka di SMP sama saja seperti pramuka pada saat di SD. Memang jika dilihat secara kasat mata,
kegiatan seperti berkemah dan lomba tidak ada yang beda, namun jika dilihat
secara lebih mendetil maka akan terlihat banyak sekali perbedaan diantara
keduanya, seperti perbedaan cara melatih, proses pelatihan, kegiatan-kegiatan,
dan rasa kekeluargaan. Justru di saat-saat SMP lah seorang penggalang itu mulai
betul-betul dibutuhkan, karena jika dilihat dari segi pemikiran, jalan fikiran pramuka penggalang SMP lebih
bisa dengan mudah menalar dan menyerap semua makna serta manfaat dari
kepramukaan itu sendiri, sehingga untuk kedepannya akan dapat terbentuk
bibit-bibit unggul dari para pramuka yang mungkin suatu saat akan mampu membawa
nama baik Indonesia di kancah dunia Internasional.
Dukungan keluarga juga menjadi salah satu faktor
kelangsungan kepramukaan di Indonesia ini. Namun yang menjadi masalah saat ini
adalah, sebagian besar anak-anak Indonesia zaman sekarang terlalu dimanja oleh
keluarganya, yang pada akhirnya mengakibatkan sikap ketidak mandirian, penakut,
bergantung pada orang lain, dan malas pada diri anak-anak itu. Contohnya saja,
jika ada suatu kegiatan kepramukaan yang menyangkut tentang pembinaan
kemandirian diri, keberanian, kerjasama, dan tanggungjawab, anak-anak itu malah
merasa minder atau bahkan mereka cenderung jadi merasa “kapok” dan tidak mau
lagi terlibat dalam kegiatan kepramukaan. Hal itu otomatis pula menjadi
penyebab dari munculnya pendapat-pendapat negatif mengenai kepramukaan dari
benak para orang tua. Nah, ini adalah salah satu contoh masalah yang acap kali
menjadi batu sandungan untuk mengembangkan kepramukaan di Indonesia pada zaman
sekarang ini. Padahal, bukankah yang namanya sikap kemandirian, keberanian, dan
tanggungjawab itu adalah penting?
Untuk kedepannya, organisasi kepramukaan di setiap
pangkalan memang harus lebih ditingkatkan lagi eksistensinya dan tentunya juga
harus lebih didukung lagi oleh berbagai pihak yang bersangkutan, seperti
dukungan dari pihak keluarga, pihak diri sendiri, pihak pangkalan, dan tentu
dari pihak gugus depannya juga. Tapi ini tidak berarti ekstrakulikuler
kepramukaan di setiap pangkalan menjadi diwajibkan, namun bangkitkanlah
kesadaran pada diri masyarakat utamanya para remaja, akan pentingnya manfaat
dari kepramukaan itu sendiri.
No comments:
Post a Comment