Tamu Blog Ini...

Tuesday, 9 December 2014

Ulangan.... Antara Teman dan lawan



Ulangan harian...
Ulangan bulanan...
Ulagan tengah semester....
Ulangan akhir semester....

Dan masih banyak lagi ulangan-ulangan yang mampu membuat gempar sekaligus galau hingga akhirnya kocar-kacir kesana kemari mencari kunci jawaban. Terlebih lagi untuk ulangan yang bersifat mendada a.k.a ulangan mendadak. Jika sudah berhadapan dengan hal yang satu itu rasanya ingin sekali bawa pasukan sekolah untuk berdemo di depan wajah sang guru!

Segala macam ulangan sudah pernah saya rasakan, pasti begitu pun seperti kalian. Mulai dari ulangan tertulis hingga pahit getirnya ulangan hidup. Pasti semuanya pernah merasakan. Nah, hal yang paling melekat tentang ulangan adalah adanya seorang murid sekolahan yang sedang serius menundukan kepalanya mengerjakan ulangan. Entah itu benar-benar mengerjakan atau sedang mencari jawaban!

Sering kali saya berfikir apakah jenjang pendidikan seseorang selalu berpengaruh terhadap kualitas ulangan seseorang? Karena biar begini pun saya sudah 11 tahun berpengalaman menghadapi ulangan dan saya telah menyaksikan banyak sekali pergeseran hal-hal yang bersifat fundamental dari sebuah ulangan khusunya yang sifatnya tertulis.

Dahulu kala ketika saya SD, saya tidak pernah diajari untuk saling sontek mensontek. Sekalinya ketahuan mensontek ganjaranya langsung diteriaki maling oleh teman-teman sekitar, maka dari itu dari total 30 murid yang berada di kelas tak ada satu pun murid yang berani mesontek pekerjaan teman. Segala rupa yang tertulis yaa itu adalah murni hasil kerjaan sendiri, mau itu nilainya jelek atau bagus well that’s not a big problem. Jangankan pula ulangan hingga ke PR pun tak ada satu pun murid yang berani mengerjakanya di kelas. Hingga suatu ketika saya ingat seorang teman yang sedang kelimpungan karena dia belum mengerjakan Prnya di rumah, dia memohon kepada saya untuk memberikanya lihat hasil pekerjaan saya karena pada saat itu selalu ada sanksi dari guru dan kena sanksi sosial dari teman. Karena kasihan nantinya, saya pun memberikan hasil pekerjaan saya untuk dia salin di sebuah jembatan penyebrangan yang berada tepat di depan sekolah (karena sakin takutnya ketauan mensontek) . Dan itu adalah sekali-kalinya saya memberikan jawaban kepada teman. Tradisi itu terus melekat di kalangan teman-teman saya hingga akhirnya masa kita semua habis sekolah itu.

Saya kira, semua sekolah juga menerapkan hal yang serupa. Tidak ada manipulasi dan tidak ada kata teman dalam  ulangan yang hanyalah lawan di sebuah kompetisi.
Prak! dugaan saya seketika pecah ketika saya melanjutkan pendidikan kejenjang SMP. Kenyataan berbeda ternyata sangat berbanding terbalik dengan yang ada di SD, saya kira bukankah semakin tinggi pendidikan maka kualitasnya pun harus semakin bagus? Dan fakta yang saya dapatkan adalah teman-teman saya tidak segan memberikan jawaban kepada teman yang lainya. Kali ini tidak ada satu pun sanksi sosial yang saya dapatkan ketika di SD dulu. Kau mau mengerjakan atau tidak yaa itu terserah kau! menjelang ulangan rasa kekeluargaan semakin kentara, teman-teman tak segan memberikan jawaban ulangan kepada teman yang lainya dengan berbagai motif. Modus yang terseringnya adalah adanya ikatan persaabatan yang kuat diantara beberapa insan muda sehingga dia rela mengorbankan apapun untuk membuat temanya selamat, sekali pun harus mengangap arena pertandingan adalah arena bermain. Ok, that’s so stupid.

Semakin keatas saya semakin ragu dengan kualitas ulangan yang selalu saya kerjakan. Selama satu tahun kebelakang hampir tidak ada nilai kejujuran dalam ulangan yang saya kerjakan secara online. Dimana ada kesempatan di celah sempit dan menguntungkan bahkan pun seorang malaikat akan bermetamorfosis menjelma iblis. Kendati saya memperoleh peringkat teratas di kelas tetapi tanpa kejujuran itu, segalanya terasa hambar. Hingga akhirnya angin segar datang menerpa, ulangan semester kali ini dilaksanakan tertulis seperti biasa dengan soal semuanya adalah esai. Lagi-lagi saya kira dengan kabar ini saya bisa bersaing kembali dan menanamkan nilai-nilai kejujuran yang sudah melekat di SD selama 6 tahun. Prak! lagi-lagi hipotesa ku itu pecah. Kali ini teman-teman tak segan-segan secara gamblang mensontek pekerjaan teman, tanpa dosa dan tanpa meluncur bebas begitu saja. Lagi dan lagi alasan-alasan kekeluargaan dan teman selalu menjadi alasan teratas mengapa mereka tak segan mensontek dan memberikan sontek. Sekalinya tak memberikan jawaban maka makian tak berkepri temanan yang saya terima. Lebih parah lagi beberapa dari pengawas memperbolehkan peserta ujian untuk mencari sumber jawabanya. Bah, ini ulangan atau apa?!

Teman? seharusnya saya tidak mengenal teman dalam pertandingan ulangan. Yang ada hanyalah lawan dan saingan bukankah moment ulangan adalah moment yang pas untuk menunjukan siapa yang paling unggul dan baik dalam pendidikan?. Bah, karena alasan-alasan bodoh itu akhirnya kita menjadi bodoh dan tidak memiliki kualitas dalam pendidikan! Toh, pada akhirnya saya dan siapa pun adalah korban dari alasan ini. Sering kali saya menemukan cerita tragis dibalik ini, yang awalnya ingin membatu teman karena iba akhirnya bablas juga kalah rangking dengan teman yang diibakan itu.

Nampaknya inilah yang bergeser dari sebuah makna fundamental pada ulangan tertulis yang terkikis oleh ketidakjujuran dan rasa persaudaraan yang bodoh. Hidup itu pilihan, harus berani ambil resiko. Jika merasa berat hati yaa jangan kasih mereka jawaban. Pada akhirnya ulangan tertulis pun menurut saya sudah tidak relevan lagi untuk menjadi bahan patokan prestasi belajar seseorang. Well, it’s a fact...

No comments:

Post a Comment