Ulangan harian...
Ulangan bulanan...
Ulagan tengah semester....
Ulangan akhir semester....
Dan masih banyak lagi ulangan-ulangan yang mampu membuat
gempar sekaligus galau hingga akhirnya kocar-kacir kesana kemari mencari kunci
jawaban. Terlebih lagi untuk ulangan yang bersifat mendada a.k.a ulangan
mendadak. Jika sudah berhadapan dengan hal yang satu itu rasanya ingin sekali
bawa pasukan sekolah untuk berdemo di depan wajah sang guru!
Segala macam ulangan sudah pernah saya rasakan, pasti
begitu pun seperti kalian. Mulai dari ulangan tertulis hingga pahit getirnya
ulangan hidup. Pasti semuanya pernah merasakan. Nah, hal yang paling melekat
tentang ulangan adalah adanya seorang murid sekolahan yang sedang serius
menundukan kepalanya mengerjakan ulangan. Entah itu benar-benar mengerjakan
atau sedang mencari jawaban!
Sering kali saya berfikir apakah jenjang pendidikan seseorang
selalu berpengaruh terhadap kualitas ulangan seseorang? Karena biar begini pun
saya sudah 11 tahun berpengalaman menghadapi ulangan dan saya telah menyaksikan
banyak sekali pergeseran hal-hal yang bersifat fundamental dari sebuah ulangan
khusunya yang sifatnya tertulis.
Dahulu kala ketika saya SD, saya tidak pernah diajari
untuk saling sontek mensontek. Sekalinya ketahuan mensontek ganjaranya langsung
diteriaki maling oleh teman-teman sekitar, maka dari itu dari total 30 murid
yang berada di kelas tak ada satu pun murid yang berani mesontek pekerjaan
teman. Segala rupa yang tertulis yaa itu adalah murni hasil kerjaan sendiri,
mau itu nilainya jelek atau bagus well that’s not a big problem. Jangankan pula
ulangan hingga ke PR pun tak ada satu pun murid yang berani mengerjakanya di
kelas. Hingga suatu ketika saya ingat seorang teman yang sedang kelimpungan
karena dia belum mengerjakan Prnya di rumah, dia memohon kepada saya untuk
memberikanya lihat hasil pekerjaan saya karena pada saat itu selalu ada sanksi
dari guru dan kena sanksi sosial dari teman. Karena kasihan nantinya, saya pun memberikan
hasil pekerjaan saya untuk dia salin di sebuah jembatan penyebrangan yang
berada tepat di depan sekolah (karena sakin takutnya ketauan mensontek) . Dan
itu adalah sekali-kalinya saya memberikan jawaban kepada teman. Tradisi itu
terus melekat di kalangan teman-teman saya hingga akhirnya masa kita semua
habis sekolah itu.
Saya kira, semua sekolah juga menerapkan hal yang serupa.
Tidak ada manipulasi dan tidak ada kata teman dalam ulangan yang hanyalah lawan di sebuah
kompetisi.
Prak! dugaan saya seketika pecah ketika saya melanjutkan
pendidikan kejenjang SMP. Kenyataan berbeda ternyata sangat berbanding terbalik
dengan yang ada di SD, saya kira bukankah semakin tinggi pendidikan maka
kualitasnya pun harus semakin bagus? Dan fakta yang saya dapatkan adalah
teman-teman saya tidak segan memberikan jawaban kepada teman yang lainya. Kali
ini tidak ada satu pun sanksi sosial yang saya dapatkan ketika di SD dulu. Kau
mau mengerjakan atau tidak yaa itu terserah kau! menjelang ulangan rasa
kekeluargaan semakin kentara, teman-teman tak segan memberikan jawaban ulangan
kepada teman yang lainya dengan berbagai motif. Modus yang terseringnya adalah
adanya ikatan persaabatan yang kuat diantara beberapa insan muda sehingga dia
rela mengorbankan apapun untuk membuat temanya selamat, sekali pun harus
mengangap arena pertandingan adalah arena bermain. Ok, that’s so stupid.
Semakin keatas saya semakin ragu dengan kualitas ulangan
yang selalu saya kerjakan. Selama satu tahun kebelakang hampir tidak ada nilai
kejujuran dalam ulangan yang saya kerjakan secara online. Dimana ada kesempatan
di celah sempit dan menguntungkan bahkan pun seorang malaikat akan bermetamorfosis
menjelma iblis. Kendati saya memperoleh peringkat teratas di kelas tetapi tanpa
kejujuran itu, segalanya terasa hambar. Hingga akhirnya angin segar datang
menerpa, ulangan semester kali ini dilaksanakan tertulis seperti biasa dengan
soal semuanya adalah esai. Lagi-lagi saya kira dengan kabar ini saya bisa
bersaing kembali dan menanamkan nilai-nilai kejujuran yang sudah melekat di SD
selama 6 tahun. Prak! lagi-lagi hipotesa ku itu pecah. Kali ini teman-teman tak
segan-segan secara gamblang mensontek pekerjaan teman, tanpa dosa dan tanpa meluncur
bebas begitu saja. Lagi dan lagi alasan-alasan kekeluargaan dan teman selalu
menjadi alasan teratas mengapa mereka tak segan mensontek dan memberikan
sontek. Sekalinya tak memberikan jawaban maka makian tak berkepri temanan yang
saya terima. Lebih parah lagi beberapa dari pengawas memperbolehkan peserta
ujian untuk mencari sumber jawabanya. Bah, ini ulangan atau apa?!
Teman? seharusnya saya tidak mengenal teman dalam
pertandingan ulangan. Yang ada hanyalah lawan dan saingan bukankah moment
ulangan adalah moment yang pas untuk menunjukan siapa yang paling unggul dan
baik dalam pendidikan?. Bah, karena alasan-alasan bodoh itu akhirnya kita
menjadi bodoh dan tidak memiliki kualitas dalam pendidikan! Toh, pada akhirnya
saya dan siapa pun adalah korban dari alasan ini. Sering kali saya menemukan
cerita tragis dibalik ini, yang awalnya ingin membatu teman karena iba akhirnya
bablas juga kalah rangking dengan teman yang diibakan itu.
Nampaknya inilah yang bergeser dari sebuah makna fundamental
pada ulangan tertulis yang terkikis oleh ketidakjujuran dan rasa persaudaraan
yang bodoh. Hidup itu pilihan, harus berani ambil resiko. Jika merasa berat
hati yaa jangan kasih mereka jawaban. Pada akhirnya ulangan tertulis pun menurut
saya sudah tidak relevan lagi untuk menjadi bahan patokan prestasi belajar
seseorang. Well, it’s a fact...
No comments:
Post a Comment