Pada waktu itu tertanda tanggal 3 September 2014. Sebelumnya
telahku terima pemberitahuan itu bahwa aku pada waktu yang tidak ditentukan
diikutsertakan dalam sebuah lomba. Tetapi lomba apa? Aku pun tak tahu.... aku
mungut-mungut. Lalu pada hari berikutnya dipanggilah aku untuk menghadap
kesiswaan. Saat itu aku sedang asyik ngebengkel di bengkel rangka. Tiba-tiba 2
temanku datang kesana untuk menjemputku. Dan berangkatlah kami bertiga ke ruang
kesiswaan.
Tepatnya tanggal 2 September 2014, aku dibuat terkejut
bahwasanya lomba itu akan diadakan besok. Lomba mengenai apa? Aku pun masih tak
tahu.... aku mengerutkan kening mengapa bisa sampai tidak tahu? Apakah ada
surat pemberitahuan? Bagaimana bisa tiba-tiba diadakan sebuah lomba? Lomba mengenai
apa? Selidik punya selidik aku pun mendapat sebuah penjelasan yang sangat
membuatku tercengang setengah hidup. Ternyata lomba itu diberitahukan hanya
melalui sebuah sms, SMS loh!! Tidak ada surat pemberitahuan resmi atau lain
sebagainya.... ketika itu kami hanya diberitahukan bahwa lombanya mengenai Bela
Negara. Lalu bagaimana sistem lombanya? Kami pun tak diberi klarifikasi yang
sangat jelas... apa yang perlu kupersiapkan? Hampir nihil. Kami hanya bisa
menerka-nerka bahwa lomba akan bertajuk cerdas cermat, menulis artikel (nah ini
yang paling aku suka!), pidato, debat, dan lain sebagainya... dan lain
sebagainya. Karena saat itu adalah waktunya aku ngebengkel, aku izin pamit duluan
sambil memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi. Bagaimana jika....
bagaimana jika... bagaimana jika.... ahhh kacauu!!!
Besoknya yang hanya bermodalkan niat dan nyali kami berangkat
ke KODIM TNI di sebuah wilayah markas besar TNI angkatan darat di Bandung. Saat
itu lombanya sangat nihil sekali. Kami tak tahu apa-apa tiba-tiba dimasukan ke
kandang macan!! Go Fuck! Ketika kami sampai di pintu masuk aula aroma-aroma
debat sudah kental terasa. Di atas panggung itu telah tersedia 4 buah meja yang
diberi kode A,B,C,D dengan disediakan 3 kursi untuk masing-masing meja. Tunggu
dulu? Debat? NNNOOOO!!! Aku harap bukan itu lombanya. Ruang aula masih terasa
hampa, hanya ada beberapa sekolah yang sudah hadir. Sepanjang waktu tunggu itu
aku rasanya terhimpit dari berbagai penjuru. Ruangan yang segede lapanan voli
itu tiba-tiba terasa menyempit mendesaku hingga lumat-lumat. Meja yang
terpajang di depan kulihat seperti sebuah monster dengan mulut besar yang
siap-siap menelanku hidup-hidup. Udara Bandung yang semua terasa sangat
dingin menyusuk tulang kita-tiba terasa panas menguap mendidihkan darah dalam
tubuh memecah jantung dari dalam hingga putus urat-uratnya. Aula itu
terasa sangat mencekam lebih mencekam
daripada pemakan pandu atau sirnaraga, aura-aura mistis terasa kental disana
seperti segala macam jin dari berbagai ras dan suku bangsa sedang berkumpul
disana menghelat reuni akbar secara bersamaan. %%^#*%$@&*****((&@W aku
panik nggak ketulungan.
Sebelum sempat aku meredakan kepanikanku, aku menolehkan
kepalaku ke belakang. Di pintu masuk itu kulihat ada sesosok orang yang kukenal
dulu. Wajahnya tak berubah juga warna kulitnya. Ah~ barangkali aku salah melihat.
Aku berfokus lagi pada urusanku yang belum selesai. Suara itu terdengar
familiar, aku merasakan beberapa orang berdesak-desakan mencari tempat duduk di
belakangku. Aku menolehkan kepalaku ke belakang lagi. “Des?” aku berniat
memanggilnya tetapi kata itu terdengar seperti sebuah pertanyaan. Dia menolehkan
kepalanya kearahku. “Eh, Miaa.... apa kabar?” dia terlihat sangat sumringah. Kita
saling berjaba tangan. Dia teman seperguruanku ketika di SMP, satu exskul dan
pernah satu kelas sebelum aku memutuskan sebuah keputusan yang membuat satu
sekolah gempar. Lalu aku bertemu denganya lagi pada situasi seperti itu?? Worst.
Kami sedikit-sedikitnya mengobrol. Kondisi berbeda
dialami dia. Seminggu sebelum lomba ini diadakan ternyata sekolah dia sudah
menerima surat undangan lengkap dengan juknisnya. Setidak-tidaknya ada sebuah
kabar gembira kudengar, lomba ini bukanlah mengenai debat tetapi sebuah diskusi
umum yang nantinya setiap kelompok mendapat sebuah pertanyaan. Sial, apakah
lomba ini bertajuk seperti dulu? Andaikan tak ada anak itu pasti aku tidak akan
lebih buruk lagi.
Kehadiranya membuat aku terbang menembus lorong waktu. Aku
berada di depan kelas memegang secarik kertas berisikan berbagai macam materi
yang akan didiskusikan. Para audience yang tak lain adalah penghuni kelas 8E sudah
duduk di bangkunya masing-masing bersiap-siap menyaksikan diskusi yang akan
segera dihelat. Aku duduk di bangku yang telah disediakan. Jantungku berdegup
kencang aku tak terbiasa tampil ke depan hampir-hampir aku tak punya
kepercayaan diri. Bibirku rasanya kelu ketika harus menjelaskan materi itu
sehingga aku terdengar sangat terbata-bata. Ketika mereka melemparkan
pertanyaan ke kelompoku. Beberapa dari temanku ada yang menjawab dan ketika
sebuah pertanyaan melayang untuku, aku menjawab pertanyaan itu semampu yang aku
bisan tetapi ada hal aneh yang membuatku kecut. Tatapan mereka mengintimidasi, sorot
mata mereka tajam seolah-olah mengejeku serta raut wajah mereka segera
menghendakiku untuk segera bubar dari depan kelas. Aku menundukan kepalaku
setelahnya, menghela napas panjang.
Ada sesuatu yang lebih dashyat lagi menantiku di depan. Saat
itu aku sedang berdialog dengan Tuhan, dia memberikanku kesempatan kedua untuk
memperbaiki semuanya. Ditempatkan pada kondisi yang serupa tetapi jauh dari
sama. Apa sih yang Tuhan inginkan? Mengapa dia membiarku terjun lagi kejurang yang
sudah kulupakan untuk seumur hidup? Membiarkan seorang saksi mata masa lalu
untuk hadir saat itu membuatku terkecik kehabisan napas. Susana itu, aura aula,
ingatan-ingatan yang silih berganti, trauma, rasa tak percaya diri, serta
orang-orang yang mendorongku terjun ke dalam jurang sangat berhasil membuatku
gusar serta pucat pasi tergoreskan luka di hati. Hanya saja saat itu, Tuhan
masih berbaik hati menempatkan seorang teman yang menyemangatiku dan memberikanku
tips-tips serta petuah ketika harus menghadapi lomba.
Aku tak pandai berargumentasi. Itu pasti. Dan apabila
kita berdiskusi, aku sangat suka. Tetapi aku lebih banyak menempatkan diriku
sebagai pendengar. I’m a quite girl dan lebih memilih untuk menjadi seorang
audience ketimbang menjadi seorang narasumber. Mengetahui bahwa lomba itu
bukanlah debat aku bisa sedikit lega karenanya. Tantanganku selanjutnya adalah
mencari gagasan-gagasan yang harus kutelaah tetapi tentang apa? Aku melihat
lawan-lawanku mereka sedang membaca-baca sesuatu, inginku juga seperti itu
tetapi rasanya aku kehabisan ide dan kapasitas otaku sedang kacau tak bisa
mencerna apapun.
Saat itu seorang guru PPKn yang sekaligus seorang pembina
OSIS juga ikut hadir. Wajah wanita itu memang sudah berkeriput menandakan
usianya yang tak lagi muda tetapi pancaran kecantikan abadi seorang wanita tak
pernah surut dari wajahnya. Dia masih cantik. “Tadi ibu disuruh ngebatuin
panitia buat nyiapin perntanyaan.” Guru itu tiba-tiba terlihat jengkel begitu
tiba.
“Loh, memangnya belum disiapin bu?” tanyaku keheranan.
“Iyaa, kayaknya ini lomba mendadak sekali. Panitianya pun
belum ada persiapan sebelumnya. Barusan aja ibu liat panita baru diskusi untuk
pertanyaan.” Kini dia terlihat lebih kesal lagi.
“Lahh, kok aneh sihh bu. Hmm berarti ini lomba memang
mendadak sekali.” Aku lantas menyimpulkan.
Lomba itu berjalan apa adanya. Aku masih dalam keadaan
panik setengah hidup. Untungnya reguku kebagian kelompok akhir. Selagi ada
waktu senggang kusempatku dulu untuk menyendiri menenangkan diri. Aku pergi
dari ruang aula entah hendak kemana. Aku mencari tempat-tempat yang setidaknya
membuatku tenang. Saat itu kutemukan sebuah tempat yang lumayan jauh dari
kebisingan. Tempat itu sangat sunyi. Hanya sayup-sayup udara membisik ke
telinga. Aku duduk berteduh di bawah sebuah pohon yang belum dewasa. Disana kurenungi
segenap hal yang sedang terjadi. Apa yang diinginkan? Mengapa harus aku? Saat itu
aku tak mendapat jawaban pasti tetapi aku yakin ada sebuah makna dibalik cerita
yang kulalui saat itu. Aku hanya perlu terus berjuang, mempersembahkan sesuatu
semampu yang aku bisa dan dia sebagai saksi matanya akan menyaksikan lagi sebuah
perubahan besar yang telah terjadi. Setalah waktu yang cukup lama itu aku kembali
lagi ke aula dengan semangat baru. Kepanikan yang tadi menghujamku perlahan
surut seiring dengan langkahku kembali menuju aula. Aku sedikit lebih tenang. Begitu
kembali kedua temanku sudah mulai bosan menunggu giliran. Terpaksa karena sudah
menjelang dzuhur lomba itu dibreak dan aku akan bertanding setelah jam
istirahat.
Detik-detikpun telah tiba aku duduk di salah satu meja
itu. Tatapan orang-orang itu membuatku terhenyak. Fuck! Perasaan trauma itu
masih saja datang menggelayut. Aku jadi panik kembali, kali ini tak ada waktu
untuk menolong aku berusaha sebisa yang aku bisa. Ronde pertama ditutup. Perolehan
didapat cukup mengejutkan. Reguku adalah regu dengan perolehan nilai tertinggi.
Aku menembus Ronde ke 2. Sedangkan temanku itu, harus rela gugur di babak
pertama. Good bye, aku melihat regu teman lamaku itu melewati pintu aula hendak
pulang ke asramanya. Ada suatu kepuasan tersendiri ketika aku bisa membuktikan
aku telah berubah. Lihatlah, aku tak seperti dulu lagi setidaknya sedikit ada
perubahan. Selamat tinggal, yang terpenting aku telah membuktikan.
Ronde ke-2 pun dihelat. Aku mulai bisa mengusai diri
sendiri yaa... setidaknya lebih mending daripada tadi. Allhamdulillah, kami
masuk babak final. Tetapi ada sebuah kesalahan fatal terjadi. Pertanyaan itu
mudah tetapi aku seperti dibuat tak berdaya ketika harus mengucapkanya. Walhasil
sang dominan pun beraksi. Please... izinkan aku berbicara... please aku tahu
jawabanya! Please berikan aku sedikit waktu..... Tetot! Stopwatch itu
menampilkan angka 00.00 artinya aku tak berargumen apapun hingga selesai. Gagal.
Perolehan itu cukup memuaskan dengan segala persiapan
yang nihil. Pemenangan juara berlangsung hampir sepi karena para peserta lomba
sebagian besar sudah pulang ke ranah masing-masing. Kelompoku mendapat
peringkat ke4. Tak ada piala kuningan saat itu hanya sebuah map yang entah
berisikan apa. Akhirnya kami pun pulang dengan membawa cerita.
Ada suatu pengandaian jika kuboleh putar ulang waktu. Andaikan
saja lomba itu disiapkan dengan matang tanpa harus ada acara serba mendadak,
mulai dari undangan, panita, dan lain sebagainya aku yakin lomba itu akan menjadi
sangat menantang. Saat itu tak ada pakem pertanyaan yang diajukan kadang
ngelantur ke sana dan dan berujung ke sini, tak ada kesepakatan yang jelas. Andaikan
mendapatkan surat undangan seminggu sebelumnya pasti aku bisa mempersiapkan
segala sesuatunya dengan matang. Namun pengandaian itu hanya ada di
angan-angan. Semua itu tak pernah terjadi. Kutrima dengan ikhlas saat itu, aku
bisa berjuang sejauh itu adalah batu loncatan yang sangat berarti. Akhirnya aku
mengerti makna sebuah pertandingan ketika kita dapat menampilkan sesuatu yang
terbaik dengan mengabaikan keberadaan orang lain. Tak peduli seberapa perih
masa lalu yang terpenting kau bisa membuktikan dirimu yang sekarang. Begitu
pentingnya kata sebuah persiapan atas segala hal yang direncakan, percayalah
segala sesuatu yang mendadak itu selalu berujung tak maksimal. Aku benci hal
itu. Setidaknya kami telah membuat kedua pendamping bahagia, akan tetapi kami
bisa sampai sejauh itu bukan karenaku.... tetapi mereka berdualah yang telah
membuat kedua pendamping bahagia.
“Mantanku baru saja meninggal.” Dia tiba-tiba membisikan
kalimat itu ketelingaku. Hhhm? Benarkah? Apa yang dia maksudkan? “Siapa? Mantamu
yang keberapa hey!” aku tahu dia itu playboy, punya segudang mantan pacar jadi
mantan yang mana?
“Mantanku yang ke2” dia menjawab datar. “biarpun mantan
tetapi tetap saja kan rasa kehilangan itu pasti ada.” Jawab dia berkata sambil berlalu
melewati ambang pintu.
Aku hanya bisa dibuat nanar memandangnya. Hampir tak ada
suatu kalimat yang keluar dari mulutku. Bahkan hingga kami berpisah di
pertigaan jalan. Hanya kalimat sabar yang keluar. Telihat bodoh, sebenarnya aku
sudah ingin memblok segala komunikasiku denganya. Aku tahu dia tak akan bersedih
karena mantan tetaplah mantan seseorang yang sudah tak kita pedulikan. Lantas bagaimana
jika denganku yang tiba-tiba menghilang? Akankah dia bersedih? Aku punya
firasat.
Sesampainya di rumah aku menghempaskan diriku ke atas
kasur. Kubuka kotak pandora yang selalu kubawa-bawa, disana terdapat sebuah
benda sakral yang selalu mampu menginterpretasikan seluruhnya.
Sretttt!!
Sreetttt!
Sreettt!!!
Beberapa goresan seketika tercipata.
KECEEEWWWAAAAAA!!!!!! Aku menjerit dalam hati.
No comments:
Post a Comment