Tamu Blog Ini...

Sunday, 26 October 2014

Mendadak? Bukan ide yang tepat (Parade Cinta Tanah Air)




Pada waktu itu tertanda tanggal 3 September 2014. Sebelumnya telahku terima pemberitahuan itu bahwa aku pada waktu yang tidak ditentukan diikutsertakan dalam sebuah lomba. Tetapi lomba apa? Aku pun tak tahu.... aku mungut-mungut. Lalu pada hari berikutnya dipanggilah aku untuk menghadap kesiswaan. Saat itu aku sedang asyik ngebengkel di bengkel rangka. Tiba-tiba 2 temanku datang kesana untuk menjemputku. Dan berangkatlah kami bertiga ke ruang kesiswaan. 

Tepatnya tanggal 2 September 2014, aku dibuat terkejut bahwasanya lomba itu akan diadakan besok. Lomba mengenai apa? Aku pun masih tak tahu.... aku mengerutkan kening mengapa bisa sampai tidak tahu? Apakah ada surat pemberitahuan? Bagaimana bisa tiba-tiba diadakan sebuah lomba? Lomba mengenai apa? Selidik punya selidik aku pun mendapat sebuah penjelasan yang sangat membuatku tercengang setengah hidup. Ternyata lomba itu diberitahukan hanya melalui sebuah sms, SMS loh!! Tidak ada surat pemberitahuan resmi atau lain sebagainya.... ketika itu kami hanya diberitahukan bahwa lombanya mengenai Bela Negara. Lalu bagaimana sistem lombanya? Kami pun tak diberi klarifikasi yang sangat jelas... apa yang perlu kupersiapkan? Hampir nihil. Kami hanya bisa menerka-nerka bahwa lomba akan bertajuk cerdas cermat, menulis artikel (nah ini yang paling aku suka!), pidato, debat, dan lain sebagainya... dan lain sebagainya. Karena saat itu adalah waktunya aku ngebengkel, aku izin pamit duluan sambil memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi. Bagaimana jika.... bagaimana jika... bagaimana jika.... ahhh kacauu!!!

Besoknya yang hanya bermodalkan niat dan nyali kami berangkat ke KODIM TNI di sebuah wilayah markas besar TNI angkatan darat di Bandung. Saat itu lombanya sangat nihil sekali. Kami tak tahu apa-apa tiba-tiba dimasukan ke kandang macan!! Go Fuck! Ketika kami sampai di pintu masuk aula aroma-aroma debat sudah kental terasa. Di atas panggung itu telah tersedia 4 buah meja yang diberi kode A,B,C,D dengan disediakan 3 kursi untuk masing-masing meja. Tunggu dulu? Debat? NNNOOOO!!! Aku harap bukan itu lombanya. Ruang aula masih terasa hampa, hanya ada beberapa sekolah yang sudah hadir. Sepanjang waktu tunggu itu aku rasanya terhimpit dari berbagai penjuru. Ruangan yang segede lapanan voli itu tiba-tiba terasa menyempit mendesaku hingga lumat-lumat. Meja yang terpajang di depan kulihat seperti sebuah monster dengan mulut besar yang siap-siap menelanku hidup-hidup. Udara Bandung yang semua terasa sangat dingin menyusuk tulang kita-tiba terasa panas menguap mendidihkan darah dalam tubuh memecah jantung dari dalam hingga putus urat-uratnya. Aula itu terasa  sangat mencekam lebih mencekam daripada pemakan pandu atau sirnaraga, aura-aura mistis terasa kental disana seperti segala macam jin dari berbagai ras dan suku bangsa sedang berkumpul disana menghelat reuni akbar secara bersamaan. %%^#*%$@&*****((&@W aku panik nggak ketulungan.

Sebelum sempat aku meredakan kepanikanku, aku menolehkan kepalaku ke belakang. Di pintu masuk itu kulihat ada sesosok orang yang kukenal dulu. Wajahnya tak berubah juga warna kulitnya. Ah~ barangkali aku salah melihat. Aku berfokus lagi pada urusanku yang belum selesai. Suara itu terdengar familiar, aku merasakan beberapa orang berdesak-desakan mencari tempat duduk di belakangku. Aku menolehkan kepalaku ke belakang lagi. “Des?” aku berniat memanggilnya tetapi kata itu terdengar seperti sebuah pertanyaan. Dia menolehkan kepalanya kearahku. “Eh, Miaa.... apa kabar?” dia terlihat sangat sumringah. Kita saling berjaba tangan. Dia teman seperguruanku ketika di SMP, satu exskul dan pernah satu kelas sebelum aku memutuskan sebuah keputusan yang membuat satu sekolah gempar. Lalu aku bertemu denganya lagi pada situasi seperti itu?? Worst.

Kami sedikit-sedikitnya mengobrol. Kondisi berbeda dialami dia. Seminggu sebelum lomba ini diadakan ternyata sekolah dia sudah menerima surat undangan lengkap dengan juknisnya. Setidak-tidaknya ada sebuah kabar gembira kudengar, lomba ini bukanlah mengenai debat tetapi sebuah diskusi umum yang nantinya setiap kelompok mendapat sebuah pertanyaan. Sial, apakah lomba ini bertajuk seperti dulu? Andaikan tak ada anak itu pasti aku tidak akan lebih buruk lagi.

Kehadiranya membuat aku terbang menembus lorong waktu. Aku berada di depan kelas memegang secarik kertas berisikan berbagai macam materi yang akan didiskusikan. Para audience yang tak lain adalah penghuni kelas 8E sudah duduk di bangkunya masing-masing bersiap-siap menyaksikan diskusi yang akan segera dihelat. Aku duduk di bangku yang telah disediakan. Jantungku berdegup kencang aku tak terbiasa tampil ke depan hampir-hampir aku tak punya kepercayaan diri. Bibirku rasanya kelu ketika harus menjelaskan materi itu sehingga aku terdengar sangat terbata-bata. Ketika mereka melemparkan pertanyaan ke kelompoku. Beberapa dari temanku ada yang menjawab dan ketika sebuah pertanyaan melayang untuku, aku menjawab pertanyaan itu semampu yang aku bisan tetapi ada hal aneh yang membuatku kecut. Tatapan mereka mengintimidasi, sorot mata mereka tajam seolah-olah mengejeku serta raut wajah mereka segera menghendakiku untuk segera bubar dari depan kelas. Aku menundukan kepalaku setelahnya, menghela napas panjang.

Ada sesuatu yang lebih dashyat lagi menantiku di depan. Saat itu aku sedang berdialog dengan Tuhan, dia memberikanku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Ditempatkan pada kondisi yang serupa tetapi jauh dari sama. Apa sih yang Tuhan inginkan? Mengapa dia membiarku terjun lagi kejurang yang sudah kulupakan untuk seumur hidup? Membiarkan seorang saksi mata masa lalu untuk hadir saat itu membuatku terkecik kehabisan napas. Susana itu, aura aula, ingatan-ingatan yang silih berganti, trauma, rasa tak percaya diri, serta orang-orang yang mendorongku terjun ke dalam jurang sangat berhasil membuatku gusar serta pucat pasi tergoreskan luka di hati. Hanya saja saat itu, Tuhan masih berbaik hati menempatkan seorang teman yang menyemangatiku dan memberikanku tips-tips serta petuah ketika harus menghadapi lomba.

Aku tak pandai berargumentasi. Itu pasti. Dan apabila kita berdiskusi, aku sangat suka. Tetapi aku lebih banyak menempatkan diriku sebagai pendengar. I’m a quite girl dan lebih memilih untuk menjadi seorang audience ketimbang menjadi seorang narasumber. Mengetahui bahwa lomba itu bukanlah debat aku bisa sedikit lega karenanya. Tantanganku selanjutnya adalah mencari gagasan-gagasan yang harus kutelaah tetapi tentang apa? Aku melihat lawan-lawanku mereka sedang membaca-baca sesuatu, inginku juga seperti itu tetapi rasanya aku kehabisan ide dan kapasitas otaku sedang kacau tak bisa mencerna apapun.

Saat itu seorang guru PPKn yang sekaligus seorang pembina OSIS juga ikut hadir. Wajah wanita itu memang sudah berkeriput menandakan usianya yang tak lagi muda tetapi pancaran kecantikan abadi seorang wanita tak pernah surut dari wajahnya. Dia masih cantik. “Tadi ibu disuruh ngebatuin panitia buat nyiapin perntanyaan.” Guru itu tiba-tiba terlihat jengkel begitu tiba.

“Loh, memangnya belum disiapin bu?” tanyaku keheranan.

“Iyaa, kayaknya ini lomba mendadak sekali. Panitianya pun belum ada persiapan sebelumnya. Barusan aja ibu liat panita baru diskusi untuk pertanyaan.” Kini dia terlihat lebih kesal lagi.

“Lahh, kok aneh sihh bu. Hmm berarti ini lomba memang mendadak sekali.” Aku lantas menyimpulkan.

Lomba itu berjalan apa adanya. Aku masih dalam keadaan panik setengah hidup. Untungnya reguku kebagian kelompok akhir. Selagi ada waktu senggang kusempatku dulu untuk menyendiri menenangkan diri. Aku pergi dari ruang aula entah hendak kemana. Aku mencari tempat-tempat yang setidaknya membuatku tenang. Saat itu kutemukan sebuah tempat yang lumayan jauh dari kebisingan. Tempat itu sangat sunyi. Hanya sayup-sayup udara membisik ke telinga. Aku duduk berteduh di bawah sebuah pohon yang belum dewasa. Disana kurenungi segenap hal yang sedang terjadi. Apa yang diinginkan? Mengapa harus aku? Saat itu aku tak mendapat jawaban pasti tetapi aku yakin ada sebuah makna dibalik cerita yang kulalui saat itu. Aku hanya perlu terus berjuang, mempersembahkan sesuatu semampu yang aku bisa dan dia sebagai saksi matanya akan menyaksikan lagi sebuah perubahan besar yang telah terjadi. Setalah waktu yang cukup lama itu aku kembali lagi ke aula dengan semangat baru. Kepanikan yang tadi menghujamku perlahan surut seiring dengan langkahku kembali menuju aula. Aku sedikit lebih tenang. Begitu kembali kedua temanku sudah mulai bosan menunggu giliran. Terpaksa karena sudah menjelang dzuhur lomba itu dibreak dan aku akan bertanding setelah jam istirahat. 

Detik-detikpun telah tiba aku duduk di salah satu meja itu. Tatapan orang-orang itu membuatku terhenyak. Fuck! Perasaan trauma itu masih saja datang menggelayut. Aku jadi panik kembali, kali ini tak ada waktu untuk menolong aku berusaha sebisa yang aku bisa. Ronde pertama ditutup. Perolehan didapat cukup mengejutkan. Reguku adalah regu dengan perolehan nilai tertinggi. Aku menembus Ronde ke 2. Sedangkan temanku itu, harus rela gugur di babak pertama. Good bye, aku melihat regu teman lamaku itu melewati pintu aula hendak pulang ke asramanya. Ada suatu kepuasan tersendiri ketika aku bisa membuktikan aku telah berubah. Lihatlah, aku tak seperti dulu lagi setidaknya sedikit ada perubahan. Selamat tinggal, yang terpenting aku telah membuktikan.

Ronde ke-2 pun dihelat. Aku mulai bisa mengusai diri sendiri yaa... setidaknya lebih mending daripada tadi. Allhamdulillah, kami masuk babak final. Tetapi ada sebuah kesalahan fatal terjadi. Pertanyaan itu mudah tetapi aku seperti dibuat tak berdaya ketika harus mengucapkanya. Walhasil sang dominan pun beraksi. Please... izinkan aku berbicara... please aku tahu jawabanya! Please berikan aku sedikit waktu..... Tetot! Stopwatch itu menampilkan angka 00.00 artinya aku tak berargumen apapun hingga selesai. Gagal.

Perolehan itu cukup memuaskan dengan segala persiapan yang nihil. Pemenangan juara berlangsung hampir sepi karena para peserta lomba sebagian besar sudah pulang ke ranah masing-masing. Kelompoku mendapat peringkat ke4. Tak ada piala kuningan saat itu hanya sebuah map yang entah berisikan apa. Akhirnya kami pun pulang dengan membawa cerita.
Ada suatu pengandaian jika kuboleh putar ulang waktu. Andaikan saja lomba itu disiapkan dengan matang tanpa harus ada acara serba mendadak, mulai dari undangan, panita, dan lain sebagainya aku yakin lomba itu akan menjadi sangat menantang. Saat itu tak ada pakem pertanyaan yang diajukan kadang ngelantur ke sana dan dan berujung ke sini, tak ada kesepakatan yang jelas. Andaikan mendapatkan surat undangan seminggu sebelumnya pasti aku bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Namun pengandaian itu hanya ada di angan-angan. Semua itu tak pernah terjadi. Kutrima dengan ikhlas saat itu, aku bisa berjuang sejauh itu adalah batu loncatan yang sangat berarti. Akhirnya aku mengerti makna sebuah pertandingan ketika kita dapat menampilkan sesuatu yang terbaik dengan mengabaikan keberadaan orang lain. Tak peduli seberapa perih masa lalu yang terpenting kau bisa membuktikan dirimu yang sekarang. Begitu pentingnya kata sebuah persiapan atas segala hal yang direncakan, percayalah segala sesuatu yang mendadak itu selalu berujung tak maksimal. Aku benci hal itu. Setidaknya kami telah membuat kedua pendamping bahagia, akan tetapi kami bisa sampai sejauh itu bukan karenaku.... tetapi mereka berdualah yang telah membuat kedua pendamping bahagia.

“Mantanku baru saja meninggal.” Dia tiba-tiba membisikan kalimat itu ketelingaku. Hhhm? Benarkah? Apa yang dia maksudkan? “Siapa? Mantamu yang keberapa hey!” aku tahu dia itu playboy, punya segudang mantan pacar jadi mantan yang mana?

“Mantanku yang ke2” dia menjawab datar. “biarpun mantan tetapi tetap saja kan rasa kehilangan itu pasti ada.” Jawab dia berkata sambil berlalu melewati ambang pintu.

Aku hanya bisa dibuat nanar memandangnya. Hampir tak ada suatu kalimat yang keluar dari mulutku. Bahkan hingga kami berpisah di pertigaan jalan. Hanya kalimat sabar yang keluar. Telihat bodoh, sebenarnya aku sudah ingin memblok segala komunikasiku denganya. Aku tahu dia tak akan bersedih karena mantan tetaplah mantan seseorang yang sudah tak kita pedulikan. Lantas bagaimana jika denganku yang tiba-tiba menghilang? Akankah dia bersedih? Aku punya firasat.

Sesampainya di rumah aku menghempaskan diriku ke atas kasur. Kubuka kotak pandora yang selalu kubawa-bawa, disana terdapat sebuah benda sakral yang selalu mampu menginterpretasikan seluruhnya.
Sretttt!!
Sreetttt!
Sreettt!!!
Beberapa goresan seketika tercipata. KECEEEWWWAAAAAA!!!!!! Aku menjerit dalam hati.

No comments:

Post a Comment