Tamu Blog Ini...

Monday, 23 February 2015

Mungkin Kamu Orangnya Pragmatis



Sudah berapa lama Anda hidup di dunia? Selama itu pula mungkin tanpa Anda sadari Anda pernah menganut paham ini. Pragmatime namanya. Sebelum saya membaca sebuah kajian filsafat saya sebenarnya tidak tahu menahu mengenai Pragmatisme, saya kira hal itu erat kaitanya dengan bahasan paham sebelum manusia homo sapien tercipta “primitivme” namun ternyata hal itu sangat berbeda jauh! Setelah dijelaskan saya seperti skak matt, tidak bisa jalan kemana-kemana dan mulai tercenung, ternyata tanpa saya sadari saya ini adalah seorang pragmatis. Hhhmm. Lalu bagimana dengan Anda?

Pragmatisme adalah suatu aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya benar dengan melihat kepada sebab-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. (sumber: wikipedia.com) nahloh, bingung dengan kata-katanya yaa? Jadi begini kalau kamu sekolah buat apa? Yaa supaya pinter udah gitu kerja nyari uang yang banyak biar jadi kaya, udah gitu menikah dan punya anak sampai nanti dia bisa mandiri dan cari uang sendiri. 

Kalau dibayangkan hal itu sangat benar, tidak ada kecacatan dan baik-baik saja. Tetapi itulah yang saya sebut sebagai pola pikir orang pragmatis. Kita melakukan sesuatu tanpa melihat makna yang tersimpan di balik itu semua. Tuhan menciptakan manusia dan membiarkan dia hidup tentu bukan hanya untuk sekedar hidup lalu mati tetapi pasti ada sebuah makna tersirat jika saja kita mau menyadarinya. Karena di dunia ini semua yang kita kerjakan dan rasakan selalu ada makna mendalamnya. Pengartian makna itu tentu saja relatif untuk setiap individu tergantung dari pemahaman dia tentang Tuhan-Kehidupan-Alam Semesta-Faktor X. Kalau kita sekolah apakah hanya untuk menjadi pintar saja? Kalau kerja hanya untuk mencari uang?

Andaikan saja orang-orang semisal pejabat pemerintah mengerti benar posisinya sebagai seorang pejabat dan mengapa dia dipilih menjadi wakil rakyat, dia tidak akan mudah melakukan KKN yang menghancurkan negerinya sendiri.  Dan kalau saja kita sebagai pelajar mengerti benar mengapa kita harus bersekolah selama bertahun-tahun lamanya bahkan hingga ajal menjemput kita mungkin tidak akan berleha-leha mengemban tugas dan kewajiban kita. Coba kita renungkan apabila satu saja orang yang tidak berpikiran pragmatis seperti Ridwan Kamil bisa mengubah wajah Bandung, maka menjadi hal yang sangat luar biasa semisal kita  untuk mulai merubah kepragmatismean yang kita miliki setelah membaca ini. Atau kapan pun itu sebelum terlambat.

Ada suatu kisah yang menceritakan tentang seorang petugas kebersihan di sebuah pabrik pembuatan pesawat terbang, katakanlah PT. Dirgantara Indonesia. Suatu hari ada proyek pembuatan pesawat, semua teknisi mengerjakan bagian untuk membuat pesawat sampai kemudian pesawat itu selesai dikerjakan. Setelah selesai dibuat, adalah bagian dia untuk menyapu/membersihkan pesawat itu. Lalu ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Pak, sedang apa?” tanpa pernah jawaban yang diberikan diluar dugaan orang yang bertanya. “Oh, saya sedang membuat pesawat.” 

Petugas kebersihan itu bukan orang yang pragmatis. Dia mengerti arti yang mendalam mengenai apa yang dia kerjakan. Dia mengerti betul meskipun menjadi bagian terkecil dalam perusahaan, tetapi dia juga ikut terlibat dalam sebuah proyek pembuatan pesawat terbang.
Masihkah kita menjadi orang yang pragmatis atau mulai menjadi seorang pengelana makna hidup? Saya yakin saat kita mengerti arti atau tujuan mendalam mengenai sesuatu yang kita kerjakan, kita akan mengerjakanya dengan lebih sungguh-sungguh. Itulah yang saya sebut sebagai PANGGILAN. 

Refrensi:
Ø  Filsafat Kompasiana (Pragmatisme, Pola Pikir Yang Menghalangi Kita Mengerti Arti Hidup by Niko Ardanisatya)
Ø  Wikipedia.com
Ø  Renungan

No comments:

Post a Comment