Sudah berapa lama Anda hidup di dunia? Selama itu pula
mungkin tanpa Anda sadari Anda pernah menganut paham ini. Pragmatime namanya. Sebelum
saya membaca sebuah kajian filsafat saya sebenarnya tidak tahu menahu mengenai Pragmatisme,
saya kira hal itu erat kaitanya dengan bahasan paham sebelum manusia homo
sapien tercipta “primitivme” namun ternyata hal itu sangat berbeda jauh!
Setelah dijelaskan saya seperti skak matt, tidak bisa jalan kemana-kemana dan
mulai tercenung, ternyata tanpa saya sadari saya ini adalah seorang pragmatis.
Hhhmm. Lalu bagimana dengan Anda?
Pragmatisme adalah suatu aliran filsafat yang mengajarkan
bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya benar dengan
melihat kepada sebab-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis.
(sumber: wikipedia.com) nahloh, bingung dengan kata-katanya yaa? Jadi begini
kalau kamu sekolah buat apa? Yaa supaya pinter udah gitu kerja nyari uang yang
banyak biar jadi kaya, udah gitu menikah dan punya anak sampai nanti dia bisa
mandiri dan cari uang sendiri.
Kalau dibayangkan hal itu sangat benar, tidak ada
kecacatan dan baik-baik saja. Tetapi itulah yang saya sebut sebagai pola pikir
orang pragmatis. Kita melakukan sesuatu tanpa melihat makna yang tersimpan di
balik itu semua. Tuhan menciptakan manusia dan membiarkan dia hidup tentu bukan
hanya untuk sekedar hidup lalu mati tetapi pasti ada sebuah makna tersirat jika
saja kita mau menyadarinya. Karena di dunia ini semua yang kita kerjakan dan
rasakan selalu ada makna mendalamnya. Pengartian makna itu tentu saja relatif
untuk setiap individu tergantung dari pemahaman dia tentang
Tuhan-Kehidupan-Alam Semesta-Faktor X. Kalau kita sekolah apakah hanya untuk
menjadi pintar saja? Kalau kerja hanya untuk mencari uang?
Andaikan saja orang-orang semisal pejabat pemerintah
mengerti benar posisinya sebagai seorang pejabat dan mengapa dia dipilih
menjadi wakil rakyat, dia tidak akan mudah melakukan KKN yang menghancurkan
negerinya sendiri. Dan kalau saja kita
sebagai pelajar mengerti benar mengapa kita harus bersekolah selama
bertahun-tahun lamanya bahkan hingga ajal menjemput kita mungkin tidak akan
berleha-leha mengemban tugas dan kewajiban kita. Coba kita renungkan apabila
satu saja orang yang tidak berpikiran pragmatis seperti Ridwan Kamil bisa
mengubah wajah Bandung, maka menjadi hal yang sangat luar biasa semisal
kita untuk mulai merubah kepragmatismean
yang kita miliki setelah membaca ini. Atau kapan pun itu sebelum terlambat.
Ada suatu kisah yang menceritakan tentang seorang petugas
kebersihan di sebuah pabrik pembuatan pesawat terbang, katakanlah PT.
Dirgantara Indonesia. Suatu hari ada proyek pembuatan pesawat, semua teknisi
mengerjakan bagian untuk membuat pesawat sampai kemudian pesawat itu selesai
dikerjakan. Setelah selesai dibuat, adalah bagian dia untuk menyapu/membersihkan
pesawat itu. Lalu ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Pak, sedang apa?”
tanpa pernah jawaban yang diberikan diluar dugaan orang yang bertanya. “Oh,
saya sedang membuat pesawat.”
Petugas kebersihan itu bukan orang yang pragmatis. Dia
mengerti arti yang mendalam mengenai apa yang dia kerjakan. Dia mengerti betul
meskipun menjadi bagian terkecil dalam perusahaan, tetapi dia juga ikut
terlibat dalam sebuah proyek pembuatan pesawat terbang.
Masihkah kita menjadi orang yang pragmatis atau mulai
menjadi seorang pengelana makna hidup? Saya yakin saat kita mengerti arti atau
tujuan mendalam mengenai sesuatu yang kita kerjakan, kita akan mengerjakanya
dengan lebih sungguh-sungguh. Itulah yang saya sebut sebagai PANGGILAN.
Refrensi:
Ø Filsafat Kompasiana (Pragmatisme, Pola Pikir Yang
Menghalangi Kita Mengerti Arti Hidup by Niko Ardanisatya)
Ø Wikipedia.com
Ø Renungan
No comments:
Post a Comment