Aku berada di lingkungan yang sangat aneh. Sungguh. Kamu
tahu kan kebenaran itu ada 3 macam? Kebeneran menurut dirinya sendiri,
kebenaran menurut orang lain, dan kebenaran yang hakiki. Kali ini aku ingin
membahas manakah yang benar menurut asas kebenaran ini mengenai suatu kejadian
yang amat miris yang sedang aku alami kali ini.
Baiklah aku ingin memulainya dari sejak aku kenaikan
kelas ke tingat XI. Saat itu aku berharap aku mendapatkan lingkungan kelas yang
kondusif. Yang bisa menunjang masa depanku. Bukan lagi satu kelas dengan
orang-orang yang menurutku “Freak” tetapi takdir Tuhan berkata lain. Awalnya
aku mengangap mereka biasa-biasa saja tetapi setelah aku semakin lama berada di
sana aku mulai menyadari bahwa mereka ibarat bom waktu yang suatu saat dapat
meluluh lantahkan semuanya. Aku benar-benar tak ingin luluh lantah, walhasil
aku berpindah haluan dengan memilih jalan yang cukup derita. Biarlah ada duka
saat ini tetapi jangan sampai di penghujung nanti aku akan menyesali masaku
saat ini. I’m very glad for that.
Mereka itu lebih freak daripada orang-orang yang pernah
aku temui. Selalu mengatas namakan solidaritas melebihi apapun yang terjadi.
Semisalnya begini, ada tugas yang diberikan guru. Aku sudah selesai duluan
mengerjakan, sedangkan mereka belum. Aku ingin mengumpulkan tetapi dicegat oleh
mereka, katanya biar solid semuanya jangan mengumpulkan tugas. Hay man! This is
world. This is my duty not yours. Karena aku tak megikuti kata mereka akhirnya
mereka itu beramai-ramai mencaci maki seenaknya mereka sendiri. Kufikir hal
yang semacam beginian yang benar-benar menghancurkan generasi bangsa. Nah,
beginilah kesolidaritasan yang salah. Bukanya mengantarkan kamu ke pintu
gerbang kesuksesan tetapi malah membuatmu memasuki ngarai hitam.
Kesolidaritasan hakiki tak pernah
membuatmu sesat....
Aku kadang berfikir. Kesolidaritasan yang bagaimana yang
mereka maksudkan? Aku kembali kepada teori 3 kebenaran tadi. Barangkali
kesolidaritasan yang benar menurut mereka itu memang seperti itu adanya. Ketika
memasuki taman bunga mereka akan memasuki taman bunga bersama-sama dan ketika
memasuki lubang kematian maka mereka pun akan memasuki lubang kematian itu
bersama-sama meskipun aku yakin beberapa dari mereka masih mempunyai kesempatan
untuk menyelamatkan diri tetapi demi yang namanya kesolidaritasan mereka bahkan
rela mengapungkan nyawanya sendiri. Sedangkan menurutku kesolidaritasan adalah
ketika kita bisa bersama-sama menjalani setiap hambatan yang datang menghadang,
membantu sesama ketika kesusahan, dan bersama-sama menuju jalan yang diridhoi
Allah. Hal yang aku contohkan di atas barulah sebagian kecil yang terjadi.
Hanya orang-orang yang merugilah yang menghalalkan segalanya demi
kesolidaritas, sementara itu kesolidaritasan yang hakiki tak akan pernah
membuatmu sesat.
Kesolidaritasan
sekarang tak akan cukup membantumu di masa depan...
Anak sekolah pasti suatu saat akan lulus. Setelah itu
masing-masing dari kita akan menjalani kehidupanya masing-masing karena
bagaimana pun kita mempunyai garis takdir yang berbeda. Dan aku ingin bertanya,
apakah kesolidaritasan yang selama ini dibanggakan akan terpakai di saat itu?
Asalkan kau tahu saja dunia ini kejam. Pendidikan formal yang bermutu pun tak
menjamin seseorang akan sukses dikemudian hari. Orang yang mempunyai kecerdasan
tingkat dewa sekali pun tak akan menjamin memiliki kehidupan yang sukses dan
bahagia. Apalagi dengan orang-orang yang mengatasnamakan kesolidaritasan demi
mengikuti perintah setan? Kelak ketika kita memasuki dunia kerja kita tak akan
mengenal siapa itu teman dan siapa itu lawan, bisa jadi teman yang sekarang
kamu ikat dengan jalinan kesolidaritasan menjadi boomerang kamu sendiri. Ketika
itu apa mereka cukup peduli dengan nasibmu yang telah kamu patri? Kau tak
percaya? Buktikan sendiri!
Yang baik adalah yang
hakikinya baik....
Aku tak bermasalah dengan embel-embel kesolidaritasan.
Tetapi kecamkan di otakmu apakah benar kesolidaritasan yang benar itu seperti
itu? Membuatmu mengabaikan semua kewajiban dan malah jauh dari jalan Allah. Bukan
hanya masa depan kamu yang akan terancam hancur tetapi ini juga menganai bumi
pertiwi. Jika saja penerus bangsanya sudah dibodohi oleh embel-embel paham
kesolidaritasan bagaimana nasib kedepanya? Ya, kita memang mempunyai paham yang
berbeda tentang kesolidaritasan, tetapi apapun
itu kesolidaritasan yang hakiki adalah kesolidaritasan yang mampu
membuatmu jadi manusia yang baik-baik, yang diridhoi oleh Allah. Sebelum
terlambat insyaflah, daripada kau menyesal suatu saat.
Saat ini aku hanya
mempunyai 4 orang teman dekat di kelas. Kita sama-sama ingin sukses, tak ingin
terus ditarik oleh arus sosial yang aneh. Kami ini orang-orang yang mampu
membentengi diri dan mudah-mudahan selalu berada di jalan kebaikan. Jika mereka
memang benar ingin membuat kami menderita saat ini. Aku tak bermasalah. Tetapi
suatu saat kami yang akan memutar balikan itu semua dan kami akan menunjukan
kesolidaritasan yang hakiki-
No comments:
Post a Comment