Tamu Blog Ini...

Thursday, 19 February 2015

The Wrong Solidarity



Aku berada di lingkungan yang sangat aneh. Sungguh. Kamu tahu kan kebenaran itu ada 3 macam? Kebeneran menurut dirinya sendiri, kebenaran menurut orang lain, dan kebenaran yang hakiki. Kali ini aku ingin membahas manakah yang benar menurut asas kebenaran ini mengenai suatu kejadian yang amat miris yang sedang aku alami kali ini.

Baiklah aku ingin memulainya dari sejak aku kenaikan kelas ke tingat XI. Saat itu aku berharap aku mendapatkan lingkungan kelas yang kondusif. Yang bisa menunjang masa depanku. Bukan lagi satu kelas dengan orang-orang yang menurutku “Freak” tetapi takdir Tuhan berkata lain. Awalnya aku mengangap mereka biasa-biasa saja tetapi setelah aku semakin lama berada di sana aku mulai menyadari bahwa mereka ibarat bom waktu yang suatu saat dapat meluluh lantahkan semuanya. Aku benar-benar tak ingin luluh lantah, walhasil aku berpindah haluan dengan memilih jalan yang cukup derita. Biarlah ada duka saat ini tetapi jangan sampai di penghujung nanti aku akan menyesali masaku saat ini. I’m very glad for that.

Mereka itu lebih freak daripada orang-orang yang pernah aku temui. Selalu mengatas namakan solidaritas melebihi apapun yang terjadi. Semisalnya begini, ada tugas yang diberikan guru. Aku sudah selesai duluan mengerjakan, sedangkan mereka belum. Aku ingin mengumpulkan tetapi dicegat oleh mereka, katanya biar solid semuanya jangan mengumpulkan tugas. Hay man! This is world. This is my duty not yours. Karena aku tak megikuti kata mereka akhirnya mereka itu beramai-ramai mencaci maki seenaknya mereka sendiri. Kufikir hal yang semacam beginian yang benar-benar menghancurkan generasi bangsa. Nah, beginilah kesolidaritasan yang salah. Bukanya mengantarkan kamu ke pintu gerbang kesuksesan tetapi malah membuatmu memasuki ngarai hitam.

Kesolidaritasan hakiki tak pernah membuatmu sesat....
Aku kadang berfikir. Kesolidaritasan yang bagaimana yang mereka maksudkan? Aku kembali kepada teori 3 kebenaran tadi. Barangkali kesolidaritasan yang benar menurut mereka itu memang seperti itu adanya. Ketika memasuki taman bunga mereka akan memasuki taman bunga bersama-sama dan ketika memasuki lubang kematian maka mereka pun akan memasuki lubang kematian itu bersama-sama meskipun aku yakin beberapa dari mereka masih mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri tetapi demi yang namanya kesolidaritasan mereka bahkan rela mengapungkan nyawanya sendiri. Sedangkan menurutku kesolidaritasan adalah ketika kita bisa bersama-sama menjalani setiap hambatan yang datang menghadang, membantu sesama ketika kesusahan, dan bersama-sama menuju jalan yang diridhoi Allah. Hal yang aku contohkan di atas barulah sebagian kecil yang terjadi. Hanya orang-orang yang merugilah yang menghalalkan segalanya demi kesolidaritas, sementara itu kesolidaritasan yang hakiki tak akan pernah membuatmu sesat.

Kesolidaritasan sekarang tak akan cukup membantumu di masa depan...
Anak sekolah pasti suatu saat akan lulus. Setelah itu masing-masing dari kita akan menjalani kehidupanya masing-masing karena bagaimana pun kita mempunyai garis takdir yang berbeda. Dan aku ingin bertanya, apakah kesolidaritasan yang selama ini dibanggakan akan terpakai di saat itu? Asalkan kau tahu saja dunia ini kejam. Pendidikan formal yang bermutu pun tak menjamin seseorang akan sukses dikemudian hari. Orang yang mempunyai kecerdasan tingkat dewa sekali pun tak akan menjamin memiliki kehidupan yang sukses dan bahagia. Apalagi dengan orang-orang yang mengatasnamakan kesolidaritasan demi mengikuti perintah setan? Kelak ketika kita memasuki dunia kerja kita tak akan mengenal siapa itu teman dan siapa itu lawan, bisa jadi teman yang sekarang kamu ikat dengan jalinan kesolidaritasan menjadi boomerang kamu sendiri. Ketika itu apa mereka cukup peduli dengan nasibmu yang telah kamu patri? Kau tak percaya? Buktikan sendiri!

Yang baik adalah yang hakikinya baik....
Aku tak bermasalah dengan embel-embel kesolidaritasan. Tetapi kecamkan di otakmu apakah benar kesolidaritasan yang benar itu seperti itu? Membuatmu mengabaikan semua kewajiban dan malah jauh dari jalan Allah. Bukan hanya masa depan kamu yang akan terancam hancur tetapi ini juga menganai bumi pertiwi. Jika saja penerus bangsanya sudah dibodohi oleh embel-embel paham kesolidaritasan bagaimana nasib kedepanya? Ya, kita memang mempunyai paham yang berbeda tentang kesolidaritasan, tetapi apapun  itu kesolidaritasan yang hakiki adalah kesolidaritasan yang mampu membuatmu jadi manusia yang baik-baik, yang diridhoi oleh Allah. Sebelum terlambat insyaflah, daripada kau menyesal suatu saat.


Saat ini aku hanya mempunyai 4 orang teman dekat di kelas. Kita sama-sama ingin sukses, tak ingin terus ditarik oleh arus sosial yang aneh. Kami ini orang-orang yang mampu membentengi diri dan mudah-mudahan selalu berada di jalan kebaikan. Jika mereka memang benar ingin membuat kami menderita saat ini. Aku tak bermasalah. Tetapi suatu saat kami yang akan memutar balikan itu semua dan kami akan menunjukan kesolidaritasan yang hakiki-

No comments:

Post a Comment